Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Bukan Sekadar Seafood Mewah: Mengapa Harga Kepiting Salju Begitu Mahal?

Kepiting salju mahal karena pasokannya terbatas, penangkapannya sulit, dan permintaan pasar tinggi.

Mengapa Kepiting Salju Bisa Sangat Mahal? Ini Faktor yang Memengaruhi Harganya
Kepiting salju yang sudah dipotong (Foto: Unsplash/ Tommaso Ubezio)

Kepiting tidak selalu dijual dengan harga terjangkau. Salah satu jenis yang dikenal memiliki harga tinggi adalah kepiting salju (snow crab).

Hidangan laut yang populer di restoran seafood premium ini memiliki daging putih berserat lembut, rasa manis alami, dan tekstur yang khas.

Harga kepiting salju bahkan bisa jauh lebih mahal dibandingkan beberapa jenis kepiting lainnya.

Iklan

Tingginya harga tersebut bukan sekadar karena rasanya yang istimewa, tetapi juga berkaitan dengan habitat, proses penangkapan, ketersediaan stok, hingga biaya distribusi. Lantas, apa saja faktor yang membuat kepiting salju memiliki harga mahal?

Hidup di Perairan Dingin

Dilansir dari laman Trout’s Supreme Seafood, 4 Agustus 2025, kepiting salju atau Chionoecetes opilio banyak ditemukan di perairan dingin Samudra Atlantik Utara dan Pasifik Utara. Habitatnya meliputi kawasan Alaska, Kanada, Greenland, hingga Laut Barents.

Kepiting ini hidup di dasar laut dengan suhu air yang relatif dingin. Kondisi tersebut membuat penangkapannya membutuhkan kapal khusus dan peralatan perikanan yang memadai.

Lokasi penangkapan yang jauh serta kondisi laut yang menantang turut meningkatkan biaya operasional. Faktor ini ikut memengaruhi harga kepiting salju ketika sampai ke tangan konsumen.

Kuota dan Musim

Tidak seperti komoditas yang dapat diproduksi sepanjang tahun melalui budidaya massal, pasokan kepiting salju sangat bergantung pada hasil tangkapan alam.

Di sejumlah negara, penangkapan kepiting salju diatur melalui kuota atau batas jumlah tangkapan. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga populasi agar tidak mengalami penangkapan berlebihan.

Ketika kuota dikurangi atau musim penangkapan dibatasi, jumlah kepiting yang masuk ke pasar dapat berkurang. Jika permintaan konsumen tetap tinggi, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga.

Mengalami Penurunan Drastis

Salah satu faktor yang turut memengaruhi harga kepiting salju adalah perubahan populasi akibat kondisi lingkungan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 19 Oktober 2023 menemukan bahwa lebih dari 10 miliar kepiting salju menghilang dari wilayah timur Laut Bering sejak 2018. Populasinya bahkan mencapai titik terendah pada 2021.

Peneliti menghubungkan penurunan tersebut dengan gelombang panas laut (marine heatwave) pada 2018–2019. Peningkatan suhu laut membuat kebutuhan energi kepiting bertambah, sementara wilayah habitat dan ketersediaan makanannya berkurang.

Dampaknya, Alaska sempat menutup perikanan komersial kepiting salju pada musim 2022–2023. Berkurangnya pasokan dari wilayah tersebut turut memengaruhi dinamika perdagangan kepiting salju dunia.

Membutuhkan Biaya Besar

Kepiting salju umumnya ditangkap menggunakan perangkap khusus yang disebut crab pots. Kapal penangkap harus membawa perlengkapan tersebut ke wilayah perairan tempat kepiting hidup.

Setelah ditangkap, kepiting perlu ditangani dan disimpan pada suhu yang sesuai agar kualitas dagingnya tetap terjaga. Proses pengolahan, pembekuan, pengemasan, hingga pengiriman lintas negara juga membutuhkan biaya tambahan.

Rantai distribusi yang panjang membuat harga jual kepiting salju tidak hanya dipengaruhi biaya penangkapan, tetapi juga biaya pengolahan dan penyimpanan.

Permintaan Pasar Internasional

Kepiting salju menjadi salah satu komoditas seafood premium yang diperdagangkan secara internasional. Dagingnya banyak digunakan untuk berbagai hidangan, mulai dari kepiting rebus, seafood platter, hingga menu restoran mewah.

Mengutip dari Food and Agriculture Organization (FAO), Maret 2026 menyebutkan bahwa harga grosir dan eceran sejumlah jenis kepiting, termasuk kepiting salju, masih berada pada tingkat tinggi sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan pasokan hasil tangkapan alam yang belum sepenuhnya mampu mengimbangi permintaan pasar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur.

Meski demikian, harga kepiting salju tidak selalu mahal dalam setiap periode. Nilainya dapat berubah mengikuti ketersediaan pasokan dan kebutuhan pasar.

Iklan