Topan tersebut diperkirakan mendarat pertama kali di Kepulauan Dinagat, tempat di mana arus listrik telah padam total sejak Senin sore.
Angin bertiup sangat kencang, kami bisa mendengar suara benda-benda beterbangan dan jatuh. Listrik padam satu jam yang lalu, dan kini kami hanya bisa berlindung dalam gelap,”
Miriam Vargas, warga setempat yang dikutip AFP.
Evakuasi Besar-Besaran
Di Pulau Leyte, salah satu kawasan paling terdampak Topan Super Haiyan (2013) yang menewaskan lebih dari 6.000 orang, proses evakuasi kembali dilakukan secara masif.
Pejabat bencana Roel Montesa menyebutkan, ribuan warga di kota Palo dan Tanauan telah dipindahkan ke tempat aman untuk menghindari potensi gelombang badai besar.
Sementara itu, Randy Nicart dari kantor pertahanan sipil menuturkan bahwa evakuasi di Pulau Samar juga sudah dilakukan sejak Minggu (2/11), dengan potensi gelombang laut setinggi tiga meter yang mengancam pesisir.
Beberapa wilayah bahkan terpaksa melakukan evakuasi paksa demi keselamatan warga,”
Nicart.
Badai Makin Ekstrim Akibat Perubahan Iklim
Gubernur Kepulauan Dinagat, Nilo Demerey, menambahkan bahwa 10.000 hingga 15.000 penduduk di provinsinya telah dievakuasi lebih awal ke lokasi yang lebih tinggi.
Penduduk di kota Loreto pun diperintahkan untuk meninggalkan rumah mereka demi menghindari risiko banjir besar.
Ahli cuaca Charmaine Varilla memperingatkan bahwa badai yang semakin kuat ini berkaitan dengan perubahan iklim dan fenomena La Niña, yang meningkatkan aktivitas badai di Samudra Pasifik.
Filipina diketahui menjadi salah satu negara dengan rata-rata 20 badai per tahun, dan tiga hingga lima badai tambahan masih mungkin terjadi hingga akhir Desember 2025.