China kembali menunjukkan ketegasan diplomatiknya setelah menanggapi pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang dianggap melanggar komitmen dasar kedua negara mengenai Taiwan.
Beijing menilai ucapan Takaichi bukan sekadar komentar biasa, tetapi dapat mengganggu keseimbangan politik dan keamanan di kawasan Asia Timur.
Dalam konferensi pers di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa pemerintah China tidak akan tinggal diam.
Ia menyampaikan bahwa Beijing telah mengajukan protes resmi dan akan terus melakukan tekanan diplomatik hingga Jepang memberikan koreksi atas pernyataan tersebut.
China telah menyampaikan protes keras dan démarche atas pernyataan keliru PM Takaichi. Kami mendesak Jepang segera memperbaiki dan mencabut pernyataan yang tidak bertanggung jawab itu,”
Mao Ning.
Pernyataan Takaichi Memicu Amarah Beijing
Kontroversi bermula ketika Takaichi menyatakan bahwa tindakan militer China terhadap Taiwan dapat menjadi ancaman langsung bagi keamanan Jepang.
Komentar ini dipandang Beijing sebagai upaya membuka jalan bagi Tokyo untuk menerapkan hak bela diri kolektif, sebuah langkah yang memungkinkan Jepang ikut terlibat dalam konflik jika sekutunya, termasuk Amerika Serikat, berhadapan dengan China.
Beijing memandang hal ini sebagai bentuk intervensi terhadap “isu internal China” dan pelanggaran terhadap prinsip “satu China” yang telah disepakati sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1972.
Sebagai respons cepat, China memanggil Duta Besar Jepang di Beijing, Kenji Kanasugi, pada 13 November untuk menyampaikan keberatan resmi dan mempertegas posisi politik mereka.
Berpotensi Terseret dalam Pusaran Konflik?
Konflik diplomatik antara China dan Jepang ini tak hanya berdampak bagi Asia Timur, namun juga dapat merembet ke negara-negara kawasan, termasuk Indonesia.
Pengamat politik internasional, Edwin Tambunan, menilai pertentangan dua kekuatan besar Asia tersebut berpotensi menekan posisi Indonesia dalam hubungan bilateral.
Jelas sangat berdampak. Negara-negara yang berkonflik, dalam hal ini China dan Jepang, tidak akan membiarkan negara sekutu atau mitra strategis tetap bersikap netral,”
Edwin saat diwawancarai Owrite.id.
Menurutnya, baik China maupun Jepang sama-sama memiliki kepentingan strategis di Indonesia, terutama karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.
Oleh sebab itu, besar kemungkinan kedua negara akan berupaya menarik Indonesia berpihak kepada salah satu dari mereka.
Baik China maupun Jepang akan berusaha menyeret negara-negara kaya sumber daya seperti Indonesia agar menjadi sekutu. Ini bisa menciptakan tekanan diplomatik yang sangat besar,”
Edwin.
Ia juga menambahkan bahwa posisi netral Indonesia akan menjadi sangat sulit dipertahankan.
Menjaga jarak dari keduanya hampir tidak mungkin. Sementara menjalankan politik dua kaki bisa dianggap sebagai pengkhianatan oleh salah satu pihak,”
Edwin.
