Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan, Dicky Budiman menegaskan bahwa penularan Hantavirus berbeda jauh dengan Covid-19.
Virus ini bukan menyebar dari manusia ke manusia, tetapi dari lingkungan yang terkontaminasi dari tikus.
Menurut data ilmiah, kemungkinan Hantavirus jadi pandemi seperti Covid-19 masih sangat kecil. Karena reservoir utamanya itu tikus, bukan manusia. Penularan manusia ke manusia sangat terbatas, juga tidak punya efisiensi transmisi setinggi virus respiratory seperti SARS-CoV-2 atau influenza,”
ujar Dicky kepada Owrite.id.
Dicky mengatakan pada kasus kapal persiar, saat ini masih dilakukan investigasi untuk melihat keterlibatan virus jenis Strain Andes Virus.
Virus jenis Strain Andes Virus ini pernah terbukti bisa menular antar manusia dalam kontak sangat dekat dan terbatas,”
tambahnya.
Lantas, Kenapa Hantavirus Disebut Bisa Mematikan?
Dicky menjelaskan Hantavirus dianggap berbahaya karena menyebabkan kebocoran cairan dan juga gagal nafas akut.
Gejala awalnya sendiri, pasien akan mengalami demam, nyari otot, lemas, mual. Kemudian, dalam beberapa hari bisa berkembang cepat jadi sesak nafas berat, paru-paru terisi cairan, penurunan oksigen drastis hingga shock.
Jadi secara medis kondisi ini menyerupai yang disebut dengan ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome. Nah kematian pada kasus berat itu bisa mencapai 40 persen, terutama kalau diagnosisnya terlambat atau fasilitas ICU-nya terbatas. Jadi yang mematikan bukan hanya virusnya, tapi inflamasi berat dan kerusakan paru yang sangat cepat,”
jelas Dicky.
Meski demikian, Dicky meminta masyarakat tetap waspada terkait perubahan iklim, urbanisasi, kerusakan ekosistem, dan juga meningkatnya interaksi manusia dan hewan. Sebab hal tersebut bisa meningkatkan risiko munculnya genesis baru.
Jadi ancaman Hantavirus lebih pada outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi, jadi bukan pandemi global atau yang cepat menyebar,”
katanya.
Risiko Hantavirus di Indonesia
Dicky menyebut Indonesia memiliki risiko besar penyebaran Hantavirus, karena populasi hewan pengerat yang tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan, dan kepadatan pelabuhan serta pergudangan.
Selain itu ada juga kelompok yang rentan, seperti petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, masyarakat di area banjir dan orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup dan populasi tikus yang tinggi.
Selain itu, tantangan Indonesia adalah Hantavirus itu bisa under diagnosed karena gejalannya mirip leptospirosis, dengue atau pneumonia,”
tandasnya.



