Namun, sumber senior dalam pemerintahan Ukraina menegaskan bahwa masih terdapat perbedaan besar antara tuntutan pemerintahan Trump dan batasan yang dapat diterima oleh Kyiv—yang saat ini berada dalam tekanan perang yang berat.
Tiga Tuntutan Utama Ganjal Negosiasi
Sumber Ukraina tersebut menyebut bahwa ada tiga poin krusial yang diajukan AS, dan semuanya merupakan isu yang selama ini dijadikan alasan Rusia untuk memulai agresi mereka.
Poin pertama menyangkut permintaan agar Ukraina menyerahkan sebagian wilayah di Donbas area yang direbut Rusia namun belum sepenuhnya dikuasai.
Termasuk dalam pembahasan adalah beberapa kota besar yang digunakan sebagai “sabuk pertahanan” Ukraina. Draf awal dari AS berisi usulan menjadikan wilayah tersebut sebagai zona demiliterisasi di bawah pengelolaan Rusia. Bagi Kyiv, skenario ini sama sekali tidak dapat diterima.
AS juga mengajukan pembatasan kekuatan militer Ukraina menjadi 600.000 personel sesuai dokumen rencana 28 poin. Walau Ukraina sudah mengajukan angka revisi yang lebih tinggi, pemerintah Kyiv tetap menolak pembatasan itu hingga adanya penyesuaian lebih lanjut.
Tuntutan terakhir yang diajukan AS adalah agar Ukraina menghapus ambisi bergabung dengan NATO.
Menurut sumber Ukraina, permintaan ini bukan hanya tidak bisa diterima, tetapi juga akan menciptakan preseden buruk dengan memberi Rusia pengaruh terhadap aliansi militer Barat yang bahkan bukan mereka anggotanya.
Kyiv: Menyerah pada Tuntutan Berarti Korbankan Masa Depan Negara
Tiga tuntutan itu, yang selama ini dipakai Rusia sebagai dalih perang, juga merupakan garis merah bagi pemerintah Ukraina. Kyiv menilai pemenuhannya dapat mengancam kedaulatan dan keamanan nasional, terlebih setelah puluhan ribu tentara Ukraina gugur mempertahankan wilayahnya.
Melonggarkan salah satu dari tiga poin tersebut dianggap sebagai risiko politik dan keamanan yang tidak dapat diterima oleh kepemimpinan Ukraina.