Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali meningkat tajam setelah bentrokan bersenjata pecah pada Senin 8 Desember 2025.
Insiden tersebut menewaskan enam orang dan memicu kekhawatiran internasional, termasuk dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump meminta kedua negara segera mematuhi perjanjian damai yang telah disepakati pada Oktober lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya tercapai melalui mediasi Malaysia dan Amerika Serikat.
Presiden Trump berkomitmen untuk menghentikan eskalasi kekerasan dan meminta pemerintah Kamboja serta Thailand menghormati komitmen gencatan senjata,”
pejabat tersebut kepada Reuters.
Baku Tembak di Perbatasan
Konflik terbaru ini bermula saat seorang tentara Thailand tewas dan empat lainnya terluka akibat baku tembak yang terjadi pada Senin dini hari.
Thailand menuduh Kamboja sebagai pihak pertama yang melepaskan tembakan, sementara Kamboja menegaskan bahwa justru Thailand yang memulai serangan.
Tidak lama setelah peristiwa itu, militer Thailand membalas dengan meluncurkan operasi udara menggunakan jet tempur F-16, menargetkan beberapa infrastruktur militer Kamboja.
Di sisi lain, Kamboja dilaporkan melepaskan serangan roket ke area permukiman Thailand di Ban Sai Tho 10, Distrik Ban Kruat, Provinsi Buri Ram.
Situasi yang memburuk memaksa pemerintah Thailand mengevakuasi setidaknya 438.000 warga dari lima provinsi perbatasan. Kamboja juga melakukan langkah serupa, memindahkan ratusan ribu warganya ke tempat yang lebih aman.
Militer Thailand mencatat 18 tentaranya terluka, sementara pemerintah Kamboja melaporkan sembilan warganya terluka akibat konflik tersebut. Enam korban tewas dalam bentrokan itu berasal dari pihak Kamboja.
Gencatan Senjata Kembali Dilanggar
Padahal, Thailand dan Kamboja saat ini berada dalam status gencatan senjata berdasarkan perjanjian damai yang diteken pada Oktober di Kuala Lumpur.
Kesepakatan itu dicapai setelah tekanan diplomatik dari Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menjabat sebagai Ketua ASEAN.
Namun, dengan adanya insiden terbaru, kedua negara kembali saling menuduh sebagai pihak yang melanggar gencatan senjata.
Konflik kedua negara sebelumnya pada Juli lalu berlangsung selama lima hari dan menewaskan sedikitnya 48 orang, serta memaksa sekitar 300.000 penduduk mengungsi.


















