Gelombang penolakan keras datang dari negara-negara Arab dan mayoritas Muslim, termasuk Indonesia, menyusul langkah Israel yang mengaitkan pengakuannya terhadap Somaliland dengan isu pemindahan paksa warga Palestina ke wilayah tersebut.
Penolakan tersebut dituangkan dalam pernyataan bersama yang disepakati oleh 21 negara Arab dan mayoritas Muslim, bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Puluhan negara yang menyatakan sikap tegas itu antara lain Arab Saudi, Aljazair, Djibouti, Gambia, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Komoro, Libya, Maladewa, Mesir, Nigeria, Oman, Pakistan, Palestina, Qatar, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman.
Penolakan penuh terhadap segala potensi keterkaitan antara tindakan tersebut dengan segala upaya untuk secara paksa mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka, yang secara tegas ditolak dalam bentuk apapun sebagai prinsip dasar,”
demikian pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI dikutip Jumat, 2 Januari 2026.
Isu Pengusiran Warga Gaza Jadi Sorotan
Israel selama ini dituding berupaya memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza dengan dalih rekonstruksi pascakonflik. Langkah tersebut menuai kecaman luas dari komunitas internasional karena dinilai melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.
Dalam pernyataan bersama tersebut, negara-negara mayoritas Muslim juga memperingatkan bahwa pengakuan Israel terhadap Somaliland berpotensi memicu instabilitas di kawasan Tanduk Afrika dan Laut Merah.
Situasi itu dinilai dapat berdampak luas, tidak hanya secara regional tetapi juga terhadap perdamaian dan keamanan global.
Selain menolak langkah Israel, puluhan negara tersebut kembali menegaskan dukungan penuh terhadap Somalia sebagai negara berdaulat. Mereka menolak segala bentuk tindakan yang berpotensi merusak persatuan nasional, integritas wilayah, dan kedaulatan Somalia.
Pengakuan sebagian wilayah negara merupakan preseden serius dan mengancam perdamaian dan keamanan internasional, serta melanggar prinsip-prinsip utama hukum internasional dan Piagam PBB,”
lanjut pernyataan bersama itu.
Israel Resmi Akui Somaliland
Pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengumumkan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan Somaliland.
Dengan mengambil langkah ini, Israel menegaskan bahwa pengakuan ini membangun hubungan diplomatik penuh antara Israel dan Republik Somaliland,”
demikian deklarasi Israel.
Israel mengklaim hubungan tersebut akan mendorong perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Tanduk Afrika, Timur Tengah, dan sekitarnya. Namun, pernyataan itu justru memicu kecaman keras dari berbagai negara dan pemerintah Somalia.
Somaliland merupakan wilayah semi-gurun di pesisir Laut Merah yang secara geografis masih bagian dari Somalia. Wilayah ini memiliki luas sekitar 177.000 kilometer persegi dengan populasi sekitar 5,7 juta jiwa.
Bekas protektorat Inggris ini sempat merdeka selama lima hari pada 1960 sebelum bergabung dengan Somalia. Akibat konflik politik dan keamanan, Somaliland memproklamasikan kemerdekaan secara sepihak pada 1990, meski hingga kini belum diakui secara luas oleh komunitas internasional.
Bantahan Tegas dari Pemerintah Somaliland
Kementerian Luar Negeri Republik Somaliland membantah keras isu bahwa pengakuan Israel disertai kesepakatan untuk menampung pengungsi Palestina atau pendirian pangkalan militer Israel.
Sebelumnya, Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengatakan kepada Al Jazeera bahwa berdasarkan intelijen negaranya, pengakuan Israel memiliki tiga syarat utama: pemukiman warga Palestina, pendirian pangkalan militer di Teluk Aden, serta kepatuhan terhadap Perjanjian Abraham.
Pemerintah Republik Somaliland dengan tegas menolak klaim palsu yang disampaikan Presiden Somalia terkait dugaan pemukiman kembali warga Palestina atau pendirian pangkalan militer di Somaliland,”
demikian pernyataan Kemlu Somaliland melalui akun X pada Kamis, 1 Januari 2026.
Dikutip dari Al Jazeera, Kemlu Somaliland menegaskan hubungan dengan Israel murni bersifat diplomatik dan berjalan sesuai hukum internasional.
Rencana Kunjungan Presiden Somaliland ke Israel
Sementara itu, lembaga penyiaran publik Israel, Kan, melaporkan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdilahi berencana mengunjungi Israel dalam waktu dekat. Kunjungan tersebut disebut akan diikuti dengan pengumuman bergabungnya Somaliland ke dalam Perjanjian Abraham.
Media tersebut juga menyebutkan bahwa kedua pihak tengah menyiapkan sejumlah perjanjian bilateral di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pertambangan dan minyak, keamanan, infrastruktur, hingga pariwisata.
Hingga kini, motif utama Israel mengakui Somaliland masih menjadi tanda tanya. Namun, sejumlah analis menilai langkah tersebut berkaitan dengan posisi strategis Somaliland di jalur Laut Merah, terutama dalam konteks menghadapi ancaman kelompok Houthi.
