Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat geger dengan melakukan langkah kontroversial di panggung global. Usai melakukan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, kini iya mengumumkan bahwa AS akan sementara mengambil alih pemerintahan Venezuela.
Trump menyebut langkah itu sebagai upaya mendorong transisi politik yang “aman, layak, dan adil” di negara Amerika Latin tersebut. Namun keputusan ini dinilai banyak pihak sebagai perubahan drastis dari janji Trump sebelumnya yang berulang kali menegaskan ingin menghindari keterlibatan militer luas di luar negeri.
Dalam konferensi pers di Florida, Trump mengatakan AS akan terus terlibat dalam dinamika politik Venezuela. Keterlibatan itu, menurutnya, bisa mencakup tindakan militer lanjutan hingga pengawasan terhadap industri minyak yang menjadi sektor strategis utama negara tersebut.
Kami akan menjalankan negara ini sampai saat kita bisa melakukan transisi yang aman, layak, dan adil,”
ujar Trump dikutip dari Reuters pada Minggu 4 Januari 2026.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci seberapa lama AS akan berada di Venezuela atau seperti apa bentuk pemerintahan sementara yang dimaksud.
Operasi tersebut dilaporkan mencakup serangan ke Caracas dan sejumlah wilayah lain, serta penangkapan Maduro dan istrinya yang akan dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan terkait narkotika.
Langkah ini kontras dengan pernyataan Trump di awal masa jabatan keduanya. Saat itu, ia menyebut keberhasilan kepemimpinannya bukan hanya diukur dari perang yang dimenangkan, tetapi juga dari perang yang berhasil dihindari.
Namun, intervensi di Venezuela justru mempertegas pola kebijakan luar negeri Trump yang kian agresif. Sejak kembali menjabat, Amerika Serikat tercatat melakukan operasi militer atau serangan udara di sejumlah negara, mulai dari Suriah, Irak, Iran, Nigeria, Yaman, hingga Somalia, serta menargetkan puluhan kapal yang dituding terlibat jaringan narkotika di Karibia dan Pasifik.
Doktrin America First
Trump berdalih, langkah terhadap Venezuela sejalan dengan doktrin “America First”. Ia menilai stabilitas kawasan sekitar AS penting, terutama terkait keamanan energi, mengingat besarnya cadangan minyak Venezuela.

Meski begitu, kebijakan ini menuai kritik bahkan dari internal Partai Republik. Sejumlah anggota partai menilai intervensi tersebut bertentangan dengan komitmen Trump untuk menekan keterlibatan militer AS di luar negeri. Dari kubu oposisi, muncul peringatan bahwa langkah ini berisiko menjadi jebakan politik, terlebih menjelang pemilu paruh waktu November, ketika isu kebijakan luar negeri berpotensi memengaruhi suara pemilih.
Pelanggaran Kedaulatan Negara
Sementara itu, pemerintah Venezuela mengecam keras tindakan AS dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara, sekaligus menetapkan status darurat nasional. Reaksi internasional pun terbelah: sebagian negara mengecam, sementara lainnya memilih bersikap hati-hati menunggu perkembangan lebih lanjut.
Maduro sendiri dilaporkan telah dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan narkotika dan korupsi, menandai babak baru ketegangan politik antara Washington dan Caracas.
