Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian internasional usai memerintahkan operasi militer ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu.
Langkah agresif ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif sebenarnya di balik tindakan Washington terhadap negara Amerika Latin tersebut.
AS menggempur ibu kota Caracas sebelum akhirnya menangkap Maduro dan istrinya. Operasi tersebut langsung menuai kritik, termasuk dari kalangan internal pemerintahan Amerika Serikat sendiri.
Anggota Kongres AS Ungkap Motif Trump
Anggota Kongres Demokrat asal Massachusetts, Jake Auchincloss, secara terbuka mengungkapkan pandangannya terkait alasan di balik serangan militer AS ke Venezuela.
Menurutnya, dalih pemberantasan narkoba dan terorisme hanyalah kedok.
Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba. Ini selalu tentang fakta bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.”
kata Jake Auchincloss.
Narkoba Bukan Alasan Utama Serangan AS
Lebih lanjut, Auchincloss membantah narasi bahwa Venezuela menjadi ancaman narkotika bagi Amerika Serikat. Ia menyebut jalur utama peredaran narkoba justru mengarah ke Eropa.
Itu adalah fentanyl yang berasal dari China,”
ucap Jake Auchincloss.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa operasi militer tersebut lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi dan energi ketimbang keamanan nasional AS.
Trump Terang-Terangan Incar Minyak Venezuela
Tak lama setelah mengumumkan penangkapan Maduro, Donald Trump secara terbuka menyampaikan rencana AS untuk menguasai sektor energi Venezuela.
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Trump menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan energi AS siap masuk besar-besaran.
Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami, yang terbesar di manapun di dunia ini, akan masuk (ke Venezuela) investasi miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,”
ujar Trumo.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi dan Iran.
Total cadangan minyak negara tersebut diperkirakan mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari cadangan minyak global.
Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami, yang terbesar di manapun di dunia ini, akan masuk (ke Venezuela) untuk mengeluarkan investasi miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,”
ujar Trump saat konferensi pers.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak asal AS yang masih beroperasi di Venezuela.
Pada kuartal keempat 2025, perusahaan tersebut mengekspor sekitar 140.000 barel minyak per hari.
Hubungan AS–Venezuela Kian Memburuk
Hubungan antara Trump dan Maduro telah memburuk sejak masa jabatan pertama Trump. Namun, ketegangan meningkat tajam sejak September tahun lalu pada periode kedua kepemimpinan Trump.
Saat itu, pasukan AS menyerang kapal yang membawa warga sipil di perairan Venezuela dengan alasan dugaan penyelundupan narkoba.
Insiden serupa terus berulang selama berbulan-bulan, disertai pengerahan pasukan dan persenjataan AS di kawasan Karibia.
Melihat rangkaian tindakan tersebut, pemerintah Venezuela meyakini bahwa tujuan utama AS adalah menggulingkan kekuasaan yang sah dan menguasai sumber daya alam strategis negara tersebut.
