Kapal feri membawa lebih dari 350 orang terbalik di lepas pantai provinsi Basilan, Filipina selatan, pada Senin, 26 Januari 2026.
Insiden ini menewaskan sedikitnya delapan orang, menurut para pejabat setempat.
Kecelakaan terjadi ketika kapal penumpang, MV Trisha Kerstin 3, sedang dalam perjalanan menuju Pulau Jolo di provinsi Sulu selatan, setelah berangkat dari kota pelabuhan Zamboanga.
Melansir dari Al Jazeera, Senin 26 Januari 2026, penjaga Pantai Filipina (PCG) mengatakan kapal tersebut tercatat membawa 332 penumpang dan 27 awak.
Komandan Penjaga Pantai Romel Dua dari Distrik Mindanao Selatan mengatakan kepada radio DZBB bahwa 215 orang telah diselamatkan dan tujuh jenazah ditemukan, sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan untuk 144 orang lainnya yang masih hilang.
Dua mengatakan penyelidikan sedang dilakukan untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut.
Arsina Laja Kahing-Nanoh, walikota kota di provinsi Basilan, mengatakan dalam sebuah unggahan di Facebook bahwa setidaknya ada delapan korban jiwa yang terkonfirmasi, akibat tenggelamnya feri tersebut.
Ia juga mengunggah video personel penjaga pantai yang menyelamatkan beberapa orang dan mengangkat jenazah dari air ke atas perahu.
Dalam pernyataan video terpisah, Kahing-Nanoh menambahkan bahwa laut yang bergelombang dan cuaca gelap menghambat operasi pencarian dan penyelamatan.
Petugas tanggap darurat Basilan, Ronalyn Perez, mengatakan bahwa setidaknya 138 orang telah diselamatkan sejauh ini.
Tantangan sebenarnya di sini adalah jumlah pasien yang datang. Saat ini kami kekurangan staf,”
kata Perez.
Dia menambahkan bahwa 18 orang telah dibawa ke salah satu rumah sakit setempat.
Gubernur Basilan, Mujiv Hataman, membagikan di Facebook cuplikan dari lokasi kejadian di pelabuhan Isabela di Mindanao yang menunjukkan para korban selamat dievakuasi dari kapal, beberapa dibungkus selimut termal, dan yang lainnya dibawa dengan tandu.
Dua, komandan penjaga pantai di Mindanao, mengatakan penyebab tenggelamnya feri tersebut masih belum jelas dan akan dilakukan penyelidikan.
Ia menambahkan bahwa penjaga pantai telah memeriksa feri tersebut sebelum meninggalkan pelabuhan Zamboanga, dan tidak ada tanda-tanda kelebihan muatan.
Sebagai informasi, kecelakaan laut sering terjadi di kepulauan Filipina karena seringnya badai, kapal yang tidak terawat dengan baik, kepadatan penumpang, dan penegakan peraturan keselamatan yang tidak konsisten, terutama di provinsi-provinsi terpencil.
Pada hari Jumat, 23 Januari 2026, setidaknya dua pelaut Filipina dilaporkan tewas, dan 15 lainnya diselamatkan setelah sebuah kapal kargo umum berbendera Singapura yang sedang dalam perjalanan ke China dari pulau Mindanao di selatan tenggelam. Empat pelaut lainnya masih hilang.
Pada Desember 1987, feri Dona Paz tenggelam setelah bertabrakan dengan kapal tanker bahan bakar di Filipina tengah, dan menewaskan lebih dari 4.300 orang dalam bencana maritim terburuk di dunia pada masa damai.

