Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya memberikan penjelasan terkait sorotan publik yang menyebut dirinya tertidur saat mengikuti rapat kabinet.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak tertidur, melainkan hanya memejamkan mata karena merasa jenuh selama rapat berlangsung.
Penjelasan itu disampaikan langsung oleh Trump dalam rapat kabinet yang digelar di Gedung Putih pada Kamis, 29 Januari 2026.
Dalam pidatonya, Trump menyinggung sejumlah rekaman kamera yang memperlihatkan dirinya terlihat memejamkan mata.
Trump menyebut bahwa momen dirinya terpejam kerap disalahartikan sebagai tertidur. Ia membantah tudingan tersebut dan menegaskan hanya sedang menahan rasa bosan.
Beberapa orang bilang ‘dia memejamkan matanya’. Begini, rapatnya itu cukup membosankan. Saya tidak tidur. Saya cuma merem karena mau cepat keluar dari sini,”
ujar Trump seperti dikutip Reuters.
Ia juga menambahkan bahwa dirinya justru sulit untuk tertidur karena padatnya aktivitas dan fokus terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat.
Isu Kesehatan dan Stamina Jadi Sorotan Publik
Pernyataan Trump ini muncul setelah dirinya beberapa kali menjadi bahan perbincangan publik akibat terlihat memejamkan mata dalam berbagai forum resmi.
Kondisi tersebut memicu spekulasi terkait stamina dan kesehatannya. Isu tersebut semakin ramai mengingat Trump kerap membandingkan kondisi fisiknya dengan mantan Presiden Joe Biden, yang sebelumnya sering ia juluki sebagai “Sleepy Joe”.
Biden sendiri pernah menghadapi tekanan publik terkait kebugaran, hingga akhirnya membatalkan pencalonan kembali sebagai presiden.
Selain isu tertidur, perhatian publik juga tertuju pada memar yang tampak di tangan Trump. Gedung Putih telah memberikan klarifikasi bahwa memar tersebut merupakan efek dari konsumsi aspirin yang rutin dikonsumsi Trump sebagai upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.
Fenomena presiden yang terlihat mengantuk bukan hal baru di Amerika Serikat. Sekretaris Pers mantan Presiden Ronald Reagan, Marlin Fitzwater, pernah menjelaskan kondisi serupa yang dialami Reagan pada era 1980-an saat usianya menginjak 70-an.
Sejak kembali menjabat, Trump berupaya menampilkan citra sebagai pemimpin yang aktif dan bertenaga.
Ia memerintahkan para ajudannya untuk membuka agenda pertemuan kepada publik serta menyiarkan rapat-rapat kabinet guna menunjukkan capaian pemerintahannya.
Berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, rapat kabinet Trump kini kerap disiarkan langsung ke publik.
Trump bahkan sesekali melontarkan pernyataan tentang kemungkinan maju untuk periode ketiga, meski hal tersebut bertentangan dengan konstitusi Amerika Serikat.
Trump tercatat sebagai presiden tertua yang dilantik dalam sejarah AS. Meski demikian, ia tetap aktif bepergian dan berinteraksi dengan media, bahkan dinilai lebih sering tampil di hadapan pers dibandingkan Joe Biden saat menjabat.
