Korps militer elite Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), dilaporkan memberikan dukungan kepada Mojtaba Khamenei untuk menjadi Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya.
Langkah ini muncul setelah laporan yang menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran saat ini, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara terbaru yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan media Iran International, keputusan tersebut diambil oleh Majelis Ahli Iran setelah adanya tekanan dari IRGC. Hingga kini, keputusan itu belum diumumkan secara resmi kepada publik.
Pengumuman resmi diperkirakan baru akan disampaikan setelah proses pemakaman pemimpin yang wafat tersebut.
Pernyataan Mojtaba Khamenei
Dalam pernyataan yang beredar melalui akun informasi konflik Iran, Mojtaba Khamenei menyampaikan pesan kepada rakyat Iran mengenai kepemimpinan yang ia ambil di tengah situasi krisis.
Salam untuk bangsa kami yang tercinta dan tengah berjuang. Hari ini, saya mengambil alih kepemimpinan bangsa besar ini. Untuk menapaki jalan para syuhada kami dan membebaskan bangsa kami dari belenggu,”
ucap Mojtba Khamenei seperti dilansir dari instagram @iran_conflictdaily, Kamis, 5 Maret 2026.
Kami akan berjuang sampai orang terakhir di antara kami, untuk menolak agresi brutal Barat. Tetap teguh, karena kemenangan adalah sekutumu dan kehendak kami tidak akan pernah patah,”
tambahnya.
IRGC Disebut Punya Peran Penting
Sejumlah analis menilai dukungan terhadap Mojtaba Khamenei merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas politik Iran di tengah situasi perang yang memanas.
Mojtaba diketahui memiliki hubungan yang cukup erat dengan IRGC selama bertahun-tahun. Ia juga disebut telah memainkan peran penting dalam lingkaran dalam kantor Pemimpin Tertinggi Iran, meskipun jarang tampil secara terbuka di hadapan publik.
Kedekatan tersebut dinilai membuatnya menjadi figur yang dapat diterima oleh elite militer dan politik Iran dalam situasi krisis.
Iran Hadapi Pilihan Sulit
Dengan situasi yang semakin tegang, Iran kini berada di persimpangan penting dalam menentukan arah kebijakan ke depan.
Kepemimpinan baru negara tersebut dihadapkan pada dua pilihan besar: meningkatkan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel atau membuka jalur diplomasi guna meredakan tekanan internasional.
Kedua opsi tersebut memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Iran saat ini menghadapi tekanan militer, sanksi ekonomi, serta meningkatnya ketidakpuasan domestik setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan politik dan sosial.

