Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman tegas terhadap Iran terkait penutupan Selat Hormuz.
Trump menyatakan bahwa AS akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali jalur pelayaran tersebut dalam waktu 48 jam.
Ancaman ini menjadi eskalasi signifikan, hanya sehari setelah Trump menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri konflik.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati wilayah tersebut.
Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi, termasuk kenaikan harga gas di Eropa.
Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,”
tulis unggahan Trump yang dipublikasikan pada 21 Maret 2026.
Serangan Rudal Iran Perluas Konflik
Ketegangan meningkat setelah pejabat Israel menyebut Iran meluncurkan rudal jarak jauh untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Kepala militer Israel, Eyal Zamir, menyatakan dua rudal balistik dengan jangkauan hingga 4.000 km ditembakkan ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia.
Ancaman ini bahkan berpotensi menjangkau kota-kota besar Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.
Serangan Iran juga dilaporkan menghantam wilayah selatan Israel, termasuk Dimona dan Arad, yang menyebabkan puluhan orang terluka.
Garda Revolusi Iran menyebut target serangan adalah instalasi militer dan pusat keamanan Israel.
Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengakui bahwa sistem pertahanan udara tidak sepenuhnya mampu mencegat serangan tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut situasi sebagai malam yang sangat sulit dan menegaskan akan terus melakukan serangan terhadap musuh.
Sikap AS Tidak Konsisten
Di tengah konflik yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, kebijakan dari Washington dinilai berubah-ubah.
Sebelumnya, Trump menyatakan ingin meredakan konflik, namun kini justru mengeluarkan ultimatum keras terhadap Iran.
Pergerakan militer AS juga meningkat dengan pengerahan Marinir serta kapal pendarat ke kawasan konflik.
Media Iran melaporkan adanya serangan terhadap fasilitas nuklir di Natanz, meski otoritas setempat menyatakan tidak terjadi kebocoran radioaktif.
Serangan lain juga dilaporkan terjadi di pelabuhan Bushehr dan Pulau Kharg, yang merupakan titik penting ekspor minyak Iran.
Ketegangan tidak hanya terjadi antara Iran dan Israel. Israel juga dilaporkan menyerang Beirut dengan alasan menargetkan milisi Hizbullah yang didukung Iran.
Situasi ini menunjukkan konflik semakin meluas dengan keterlibatan berbagai pihak di kawasan Timur Tengah.
Meningkatnya konflik berpotensi mengganggu stabilitas energi dunia serta memicu ketidakpastian ekonomi global.
Selat Hormuz sebagai jalur vital energi menjadi pusat perhatian, mengingat dampaknya yang langsung terasa terhadap harga minyak dan gas dunia.

