Pengamat politik internasional, Edwin Tambunan, menilai bahwa Selat Hormuz kini menjadi aset paling penting bagi Iran dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Menurutnya, jalur tersebut memiliki peran vital dalam distribusi energi global sehingga sulit untuk dikuasai tanpa mengendalikan Iran secara menyeluruh.
Meski konflik terus meningkat, Edwin menilai skenario untuk menguasai Iran secara penuh masih jauh dari kenyataan.
Walaupun Israel telah melakukan sejumlah serangan terhadap fasilitas penting Iran, kemampuan pertahanan Teheran dinilai masih kuat. Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa Amerika Serikat akan mempertimbangkan untuk meredakan konflik demi menghindari kerugian ekonomi yang lebih besar.
Peluang Kerja Sama AS-Iran Masih Kecil
Sejumlah spekulasi menyebutkan adanya kemungkinan kerja sama antara AS dan Iran dalam mengelola Selat Hormuz. Namun, Edwin menilai peluang tersebut sangat kecil.
Hal ini disebabkan oleh belum adanya indikasi dari Iran untuk membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Jika skenario kerja sama itu benar-benar terwujud, dampaknya terhadap rantai pasok global minyak dan gas (migas) akan signifikan. Kepastian pasokan diperkirakan meningkat, namun dengan konsekuensi biaya yang lebih tinggi. Negara-negara importir kemungkinan akan menanggung beban tambahan, layaknya biaya tol atas distribusi energi melalui selat tersebut,”
ujar Edwin kepada owrite.
Negara-negara yang paling terdampak adalah mereka yang sangat bergantung pada pasokan migas dari kawasan Teluk, seperti Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Thailand, dan Singapura.
Lebih dari 30 persen kebutuhan energi negara-negara tersebut berasal dari kawasan itu—ironisnya, sebagian besar merupakan mitra strategis Amerika Serikat.
Dampak ke Indonesia dan Strategi Antisipasi
Sementara itu, Indonesia diperkirakan mendapatkan sekitar 27 persen pasokan minyak dari kawasan yang sama.
Untuk mengantisipasi risiko, pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah strategis, seperti diversifikasi sumber impor energi agar tidak bergantung pada satu wilayah.
Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Edwin juga menekankan pentingnya transparansi pemerintah dalam merancang kebijakan mitigasi dampak konflik terhadap pasokan energi nasional.
Menurut saya, pemerintah bisa lebih transparan dalam menyusun kebijakan mitigasi dampak konflik terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Selain itu, skenario penghematan energi dinilai perlu segera disiapkan dan diimplementasikan, dimulai dari lingkungan pemerintahan sebagai contoh bagi masyarakat luas,”
tutur Edwin.
Ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan betapa pentingnya jalur tersebut bagi stabilitas energi dunia. Setiap dinamika konflik di kawasan ini berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi global.
Karena itu, langkah antisipatif dan kebijakan strategis menjadi kunci dalam menghadapi potensi krisis energi di masa depan.



