Setidaknya tujuh roket diluncurkan dari kota Rabi’a di Irak menuju pangkalan militer AS di Suriah timur laut pada Senin, 23 Maret 2026, menurut dua sumber keamanan Irak. Serangan ini mengindikasikan bahwa Irak siap bergabung dengan Iran untuk melawan AS dan sekutunya Israel.
Sebuah platform peluncur roket, yang dipasang di atas truk yang terbakar diyakini sebagai peluncur yang digunakan untuk menembakkan tujuh roket ke arah pangkalan militer AS di Rmeilan di Suriah, kata sumber tersebut.
Ini adalah serangan lintas batas pertama yang menargetkan pasukan AS di Suriah sejak dimulainya perang Iran,”
kata sumber tersebut, dikutip dari The Arab Weekly, Rabu, 26 Maret 2026.
Namun, tentara Suriah mengatakan salah satu pangkalan militernya di kota Hasaka di timur laut diserang roket, tanpa menyebutkan apakah pangkalan tersebut milik Amerika atau menampung pasukan AS.
Dalam sebuah pernyataan, disebutkan bahwa kontak dan koordinasi telah dilakukan dengan pihak Irak terkait insiden tersebut, dan menambahkan bahwa tentara Irak telah memulai operasi penyisiran dan pencarian untuk menemukan pelaku serangan.
Serangan terhadap instalasi AS di Irak dan Suriah secara luas dikaitkan dengan milisi Irak pro-Iran yang diduga terlibat dalam banyak serangan terhadap fasilitas diplomatik AS dan kepentingan ekonomi di Irak sendiri.
Sementara itu, serangan yang menargetkan lokasi milik Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak di provinsi Anbar bagian barat menewaskan enam pejuang dan melukai 15 lainnya, termasuk komandan operasi PMF di Anbar, menurut sumber keamanan.
Baghdad dan Damaskus, yang ingin menghindari perang Iran juga waspada terhadap peningkatan dampak lintas perbatasan.
Perang tersebut telah meluas melampaui perbatasan Iran, karena Teheran telah merespons dengan menyerang Israel dan negara-negara Arab Teluk, sementara Israel telah melancarkan serangan baru di Lebanon setelah milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran menembak melintasi perbatasan.

