Pemerintah Iran menyatakan, bahwa kapal-kapal yang dikategorikan sebagai tidak bermusuhan (non-hostile) diperbolehkan melintasi Selat Hormuz.
Kebijakan ini disampaikan melalui nota resmi Kementerian Luar Negeri Iran kepada International Maritime Organization, seperti dilaporkan oleh AFP.
Meski membuka akses, Iran menetapkan sejumlah persyaratan ketat bagi kapal yang ingin melintas. Kapal harus mematuhi aturan keselamatan dan keamanan serta melakukan koordinasi dengan otoritas terkait.
Kapal-kapal non-hostile dapat, sepanjang mereka tidak berpartisipasi maupun mendukung tindakan agresi terhadap Iran, serta sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang dinyatakan, mendapat manfaat dari lintasan aman melalui Selat Hormuz dengan berkoordinasi dengan otoritas yang berwenang,”
tulis pernyataan resmi yang dirilis IMO pada Selasa 24 Maret 2026.
Iran juga menegaskan, dokumen tersebut telah disebarkan kepada seluruh negara anggota dan organisasi terkait atas permintaan Teheran.
AS dan Israel Dilarang Melintas
Di sisi lain, Iran secara tegas melarang kapal yang dianggap berasal dari pihak agresor untuk melintas di Selat Hormuz. Secara khusus, Amerika Serikat dan Israel disebut tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan akses tersebut.
Peralatan kapal dan aset apa pun milik pihak agresor, yakni AS dan rezim Israel, serta peserta agresi lainnya tidak memenuhi syarat untuk lintasan damai atau non-hostile,”
tegas Iran dalam pernyataan yang sama.
Teheran menyatakan, bahwa tanggung jawab atas gangguan keamanan dan meningkatnya risiko di wilayah tersebut berada di tangan AS dan Israel.
Kedua negara tersebut dituding telah memicu konflik yang dianggap melanggar hukum internasional serta mengancam stabilitas kawasan.
Menurut Iran, tindakan tersebut juga meningkatkan risiko terhadap pelayaran global yang melintasi jalur strategis tersebut.
Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia sejak Iran menutup jalur tersebut pasca konflik dengan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Penutupan jalur vital ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dan gas dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting secara global.
Meskipun Iran mulai membuka akses terbatas, situasi di kawasan masih belum sepenuhnya stabil. Kebijakan selektif ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik masih tinggi dan berpotensi memengaruhi perdagangan internasional.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada dinamika konflik dan hubungan antara negara-negara yang terlibat.


