Namun, Ziobro membantah semua tuduhan tersebut. Ia mengklaim bahwa, dirinya hanya jadi korban kriminalitas politik oleh pemerintah Polandia yang saat ini dipimpin Donald Tusk.
Sempat Kabur ke Hungaria
Sebelumnya, pada Januari lalu Ziobro sempat kabur ke Hungaria dan mendapat perlindungan dari Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán. Pemerintah Polandia berharap Ziobro bisa dipulangkan setelah ada pergantian pemerintahan di Hungaria.
Namun sebelum pemerintahan baru resmi dilantik pada 9 Mei 2026, Ziobro lebih dulu berhasil terbang ke Amerika Serikat setelah visa AS miliknya keluar.
Dilansir dari Reuters, Wakil luar negeri AS menyebut bahwa Ziabro sebagai sosok yang diperlakukan tidak adil secara hukum. Permohonan visa itu bahkan diproses dengan alasan “kepentingan keamanan nasional”, meski alasan detailnya tidak dijelaskan.
Kasus ini jadi sorotan karena jarang sekali Amerika memberikan visa kepada politisi yang sedang menghadapi kasus pidana di negara sekutunya sendiri.
Ziobro juga dikenal sebagai tokoh di balik perubahan sistem pengadilan Polandia saat Partai PiS berkuasa pada 2015-2023, yang sempat dikritik Uni Eropa karena dianggap melemahkan independensi hakim.
Selain itu, namanya ikut terseret dalam penggunaan spyware Pegasus, perangkat yang diduga dipakai untuk memata-matai lawan politik dan jurnalis.
Hingga kini, pemerintah AS belum memberi penjelasan rinci terkait alasan pemberian visa tersebut. Sementara pemerintah Polandia meminta penjelasan resmi dari AS dan Hungaria terkait bagaimana Ziobro bisa lolos keluar meski paspornya disebut sudah dibatalkan.
Kini, Ziobro diketahui berada di Amerika Serikat dan mulai tampil sebagai komentator di televisi Polandia, yaitu TV Republika.