Gempa yang mengguncang wilayah Junín, Peru, pada Sabtu, 19 Juli 2026 malam waktu setempat menyebabkan 6 orang tewas, 30 orang mengalami luka-luka, dan memaksa sekitar 300 warga mengungsi.
Mengutip Al Jazeera, merujuk data United States Geological Survey, gempa bermagnitudo 5,5 dengan kedalaman 10 km mengguncang sekitar pukul 21.24 waktu setempat. Di saat bersamaan, Pusat Seismologi Nasional Peru mencatat gempa magnitudo 5,1 yang disusul gempa susulan berkekuatan 3,7.
Gempa terjadi di dekat Kota Sicaya, Provinsi Huancayo atau sekitar 300 kilometer di sebelah timur ibu kota Lima. Guncangan menyebabkan 48 rumah hancur dan 18 lainnya rusak.
Kepala Institut Pertahanan Sipil Nasional Peru (Instituto Nacional de Defensa Civil) Luis Vásquez mengatakan ada sekitar 300 warga yang kini mengungsi di tenda darurat yang telah disiapkan pemerintah.
“Laporan awal menunjukkan sedikitnya 48 rumah hancur dan 18 rumah rusak,”
kata Vásquez, mengutip Reuters.
Pengaruh Material
Besarnya kerusakan dipengaruhi oleh material bangunan di wilayah pegunungan yang masih banyak menggunakan bata lumpur atau adobe.
“Penggunaan material adobe di kawasan Andes telah menyebabkan dampak dan kerusakan menjadi lebih besar,”
ujar Vásquez.
Melansir dari AP News, gempa juga merusak Gereja Santiago de León dan bekas biara di Chongos Bajo yang telah berdiri sejak 1565, dan merupakan salah satu situs warisan budaya nasional Peru.
The New York Times melaporkan gempa ini menjadi yang terbesar yang pernah mengguncang dataran tinggi Peru bagian tengah sejak 1969. Kepala Institut Geofisika Peru Hernando Tavera mengatakan hingga pertengahan 2026 tercatat ada sekitar 450 gempa dan ini merupakan jumlah yang tergolong normal.
Peru berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), jalur yang menjadi lokasi sekitar 85 persen aktivitas gempa bumi di dunia. Maka negara tersebut termasuk salah satu wilayah yang paling sering mengalami gempa.


























