Investasi asing di Iran mendadak terhenti sejak perang dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Hingga saat ini, sepanjang tahun kalender Iran yang dimulai pada 21 Maret 2026, belum ada satu pun investasi asing baru yang masuk ke negara tersebut.
Wakil Menteri Perindustrian sekaligus Kepala Organisasi Industri Kecil dan Kawasan Industri Iran Tahmoures Lahouti mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi sanksi dan berbagai pembatasan yang masih berlaku.
“Mengingat sanksi dan pembatasan yang berlaku, investasi asing tidak terjadi,”
kata Lahouti, dikutip dari Iran International, Selasa, 15 September 2026.
Perang Iran-Israel yang melibatkan AS dimulai pada 28 Februari, sekitar tiga pekan sebelum tahun baru Iran. Meski demikian, Lahouti tidak menyebutkan angka pasti terkait penurunan investasi asing maupun domestik dan tidak menjelaskan apakah penilaiannya mencakup seluruh sektor ekonomi.
Selain investasi asing, investasi domestik di sektor industri juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Volatilitas nilai tukar, inflasi, serta pelemahan daya beli masyarakat disebut membebani dunia usaha.
Nilai tukar rial juga tercatat kehilangan sekitar 60 persen terhadap dolar AS sejak awal tahun Iran. Depresiasi tersebut meningkatkan biaya impor peralatan dan kebutuhan produksi, sementara inflasi dan ketidakpastian harga membuat perusahaan kesulitan mengambil keputusan investasi jangka panjang.
630.000 Lapangan Kerja Industri Hilang
Penurunan investasi juga terjadi bersamaan dengan penyusutan lapangan kerja di sektor industri. Data Pusat Statistik Iran menunjukkan sekitar 630.000 lapangan kerja industri hilang pada kuartal pertama tahun fiskal Iran saat ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data pasar tenaga kerja lain juga menunjukkan penurunan tajam jumlah pekerja yang membayar iuran jaminan sosial. Kondisi tersebut menambah tekanan yang telah lama dihadapi industri Iran, mulai dari sanksi dan pembatasan perbankan internasional hingga inflasi, depresiasi mata uang, serta kekurangan energi yang berulang.
Arus Keluar Modal Meningkat
Masalah investasi Iran tidak hanya berkaitan dengan sulitnya menarik modal asing, tetapi juga meningkatnya arus keluar modal. Data Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan/UN Trade and Development (UNCTAD) menunjukkan Iran telah kesulitan menarik investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI) sejak sebelum perang.
Pada 2016 dan 2017, setelah kesepakatan nuklir diberlakukan dan pembatasan internasional sempat dilonggarkan, Iran rata-rata menarik sekitar US$4,2 miliar FDI per tahun. Namun, setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir dan kembali menjatuhkan sanksi pada 2018, FDI tahunan Iran turun menjadi sekitar US$1,5 miliar.
Di sisi lain, data Bank Sentral Iran menunjukkan arus keluar modal meningkat tajam. Defisit neraca modal melebar dari US$6,77 miliar pada 2017 menjadi US$19,62 miliar pada 2025. Secara kumulatif, Iran menarik sekitar US$12,7 miliar FDI sepanjang 2018 hingga akhir 2025. Pada periode yang sama, defisit neraca modal mendekati US$120 miliar.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan investasi Iran tidak hanya berasal dari minimnya modal asing, tetapi juga dari keluarnya modal dalam jumlah besar.
Tertinggal dari Arab Saudi dan UEA
Iran juga semakin tertinggal dari sejumlah pesaing regional dalam menarik investasi asing. Data UNCTAD menunjukkan Arab Saudi menarik FDI sebesar US$32,6 miliar pada 2025, sedangkan Uni Emirat Arab menerima sekitar US$48,2 miliar.
Jarak tersebut mencerminkan kesulitan Iran bersaing mendapatkan modal asing setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi serta pembatasan perbankan dan perdagangan internasional. Kondisi ekonomi domestik turut mempersempit ruang bagi investor dalam negeri untuk menutup kekurangan investasi asing.
Depresiasi rial, inflasi, ketidakpastian ekonomi, dan arus keluar modal terus menekan aktivitas investasi.






