Arab Saudi memperingatkan serangan kelompok Houthi Yaman yang mengancam keamanan maritim di Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Riyadh menyerukan tindakan internasional bersama untuk melindungi jalur pelayaran strategis tersebut.

Peringatan itu disampaikan Perwakilan Tetap Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Rabu, 16 September 2026.

Melindungi koridor maritim dan memastikan kebebasan navigasi adalah tanggung jawab internasional bersama yang memerlukan kepatuhan terhadap hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan,”

demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari Middle East Monitor, Kamis, 17 September 2026.

Ganggu Perdagangan Dunia

Ilustrasi serangan drone Houthi.
Ilustrasi serangan militer menggunakan drone. (Foto: AI).

Riyadh menilai ancaman Houthi terhadap keamanan maritim di Laut Merah dan Bab el-Mandeb berpotensi mengganggu perdagangan internasional serta rantai pasokan global.

Arab Saudi juga menyoroti pembentukan koalisi maritim defensif multinasional pada Juli lalu, yang bertujuan memperkuat keamanan laut dan melindungi kebebasan navigasi di tengah meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran vital di kawasan.

Pada bulan yang sama, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

Arab Saudi diketahui telah memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015 dalam menghadapi Houthi. Kelompok tersebut menguasai Ibu Kota Sanaa dan sejumlah provinsi sejak 2014 serta dituduh mendapat dukungan Iran.

Houthi juga melancarkan serangan terhadap kapal-kapal Saudi dan sejumlah target di wilayah kerajaan, termasuk fasilitas energi. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan korban luka di kalangan warga sipil dan kerusakan material.

Iran Luncurkan Rudal

Militer Iran pamerkan rudal balistik yang dipakai untuk konflik dengan AS.
Militer Iran pamerkan rudal balistik yang dipakai untuk konflik dengan AS. (Foto: WANA).

Sementara itu, Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Arab Saudi sejak perang AS-Israel melawan Teheran pecah pada akhir Februari.

Iran menyatakan serangan tersebut menargetkan kepentingan Amerika Serikat di wilayah kerajaan. Namun, Riyadh mengatakan sejumlah serangan justru mengenai infrastruktur sipil, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan sektor energi Saudi.