Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan bahwa Presiden Donald Trump memiliki rekam jejak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika kepentingan rakyat Amerika berbeda dengan kepentingan pemerintah Israel.
Pernyataan itu disampaikan Vance melalui pidato virtual dalam KTT All-In tentang teknologi di Los Angeles, pada 15 September lalu.
Lebih dari presiden mana pun dalam 40 tahun terakhir, Trump telah menunjukkan kemauan untuk benar-benar berpisah dengan Netanyahu ketika dia merasa bahwa kepentingan rakyat Amerika berbeda dari kepentingan pemerintah Israel,”
kata Vance, dikutip dari Jerusalem Post, Kamis, 17 September 2026.
Vance juga menyebut hubungan AS-Israel tidak selalu sejalan dan menegaskan Washington memiliki kepentingan sendiri dalam menentukan kebijakan luar negerinya.
Saya merasa ini agak ironis… Partai Demokrat mengkritik Donald Trump atas hubungannya dengan Netanyahu, padahal Donald Trump satu-satunya presiden dalam 40 tahun terakhir yang bersedia mengatakan, ‘Netanyahu adalah mitra yang baik,”
ujar Vance.
Ia juga memiliki pendapat yang berbeda tentang ini.
Netanyahu salah tentang ini, atau mungkin Netanyahu benar tentang ini dari perspektif Israel. Tetapi rakyat Amerika membutuhkan kita untuk bergerak ke arah yang berbeda,”
ungkapnya.
Trump selama ini kerap menyebut dirinya sebagai presiden AS yang paling mendukung Israel. Pada masa jabatan pertamanya, ia memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem dan menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018.
Trump dan Netanyahu
Hubungan dekat Trump dan Netanyahu juga terlihat dari sejumlah kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih. Kedekatan tersebut menjadi bagian penting dari hubungan politik kedua pemimpin.
Namun, Vance dalam beberapa kesempatan mengambil posisi yang lebih keras terhadap Israel. Ia juga mengklaim bahwa Israel berupaya memengaruhi opini publik AS terkait perang dengan Iran.
Israel telah menjadi mitra penting dalam hal teknologi militer, dalam hal berbagi intelijen, tetapi terkadang Amerika Serikat tidak selalu setuju dengan Israel,”
urai Vance.
Perbedaan antara Washington dan Yerusalem semakin terlihat setelah tujuan bersama dalam perang Iran, termasuk mengakhiri ancaman nuklir Iran, tidak sepenuhnya tercapai.
Vance kemudian menegaskan bahwa kepentingan AS harus menjadi dasar dalam menentukan kebijakan luar negeri Washington di Timur Tengah.
Kita tidak bisa membiarkan kebijakan luar negeri Timur Tengah kita tunduk pada negara Israel,”
imbuh Vance dalam KTT All In.





