Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Galibaf mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat (AS) memenuhi komitmen yang dibuat berdasarkan perjanjian yang dibuat pada Juni lalu dan memenuhi persyaratan Teheran.

Dalam pidato di parlemen, merujuk tayangan stasiun televisi milik negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Bagher menegaskan bahwa Iran telah menyampaikan syarat-syarat kepada pihak AS.

“Musuh sangat menyadari bahwa jalan penipuan dan pemaksaan sepihak telah tertutup. Sampai kondisi ini terpenuhi, hak-hak sah bangsa Iran diakui, dan komitmen Amerika dipenuhi, tidak akan ada peluang untuk kembali ke keadaan negosiasi sebelumnya atau untuk pembukaan kembali Selat Hormuz,”

kata Bagher, dikutip dari Middle East Monitor, Senin, 21 September 2026.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang mendorong Teheran untuk membalas dengan serangan terhadap negara-negara di kawasan tersebut yang menampung aset militer AS.

Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur air terpenting di dunia untuk pengiriman minyak dan gas. Juni lalu, Washington dan Teheran bersepakat menetapkan penghentian operasi militer dan pengaturan untuk membuka kembali Selat Hormuz untuk navigasi.

Kesepakatan itu kemudian runtuh di tengah perbedaan pendapat antara kedua pihak mengenai pengaturan navigasi dan keamanan di jalur perairan strategis tersebut.