Sebanyak 77 delegasi tercatat tidak berada di ruang sidang Majelis Umum PBB saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya.
Sebagian delegasi meninggalkan ruangan sesaat sebelum Netanyahu berbicara, sementara sebagian lainnya memang tidak menempati kursi sejak awal. Peristiwa tersebut memicu sorotan luas terhadap posisi Israel di tengah perang di Gaza.
Menurut laporan Middle East Monitor, dikutip Kamis, 24 September 2026, sebagian besar delegasi meninggalkan aula sebelum Netanyahu mulai berbicara.
Rekaman dari dalam ruangan memperlihatkan jumlah delegasi yang tersisa relatif terbatas, sementara suara aksi protes terdengar dari luar aula.
Berdasarkan laporan media Israel, 77 negara masuk dalam daftar delegasi yang tidak hadir atau meninggalkan ruangan ketika pidato Netanyahu berlangsung.
Ynet mencatat bahwa tidak semua ketidakhadiran tersebut merupakan aksi boikot. Sejumlah delegasi memang tidak menghadiri sesi tersebut sejak awal, sedangkan delegasi lainnya meninggalkan ruangan ketika Netanyahu hendak menyampaikan pidatonya.
Sementara itu, aksi meninggalkan ruangan tersebut mendapat perhatian dari media Israel.
Channel 14 menggambarkannya sebagai “penghinaan di wajah Israel”, sedangkan Yedioth Ahronoth menyebutnya sebagai “protes dramatis”.
Kedua penilaian tersebut merupakan karakterisasi dari media masing-masing, bukan kesimpulan independen.
Di sisi lain, Haaretz menyoroti gaya pidato Netanyahu yang dinilai berulang dan membosankan. Surat kabar tersebut juga menilai pidato itu terutama ditujukan kepada basis politik sayap kanannya serta Presiden Amerika Serikat Donald Trump, di tengah sorotan internasional terhadap kebijakan Israel.
The Guardian melaporkan, Netanyahu dalam pidatonya berjanji akan melanjutkan upaya Israel di Gaza, sementara sejumlah delegasi meninggalkan aula sebagai bentuk protes.
Laporan lain menyebut Netanyahu menyampaikan pembelaan terhadap operasi militer Israel dan mengatakan bahwa negaranya belum selesai menjalankan operasi tersebut.
Menurut laporan media lainnya, Washington Post menggambarkan aksi tersebut sebagai bagian dari reaksi internasional terhadap kebijakan Israel.
Sementara itu, Independent menyoroti situasi ketika Netanyahu menyampaikan pidatonya di hadapan jumlah audiens yang jauh lebih terbatas dibandingkan kondisi normal persidangan Majelis Umum PBB.
Pada waktu yang sama, aksi protes juga berlangsung di New York, termasuk di sekitar Times Square. Para demonstran menyuarakan tuntutan agar perang Israel di Jalur Gaza diakhiri.
The Guardian sebelumnya juga melaporkan adanya aksi demonstrasi di New York menjelang pidato Netanyahu.
Peristiwa tersebut berlangsung di tengah perang Israel-Hamas di Gaza dan meningkatnya kritik internasional terhadap kebijakan Israel di wilayah tersebut.
Dalam pidatonya, Netanyahu tetap membela tindakan militer Israel dan menyampaikan sikap tegas pemerintahannya terkait operasi di Gaza.







