Ekonomi Gaza telah memasuki krisis terparah yang pernah tercatat di dunia, dengan kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi mencapai US$71,5 miliar.
Laporan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyebut kehancuran kapasitas produktif di Gaza terjadi secara luas setelah konflik berkepanjangan.
PDB riil per kapita tahunan Gaza hanya mencapai $212, atau $0,58 per hari, pada tahun 2025, setara dengan hanya 17 persen dari level rendahnya pada tahun 2022,”
bunyi laporan tersebut, dikutip dari Middle East Monitor, Jumat, 25 September 2026.
Laporan UNCTAD menyebut operasi militer Israel sejak Oktober 2023 telah menyebabkan 92 persen lembaga ekonomi Gaza rusak atau hancur dan menghentikan hampir seluruh aktivitas produktif di semua sektor.
Produksi pertanian dan industri masing-masing anjlok 94 persen dibandingkan dengan 2022, sementara produksi konstruksi merosot sebesar 99 persen.
Menurut laporan tersebut, pasar tenaga kerja juga mengalami kehancuran. Hanya sekitar 123.300 warga Gaza yang bekerja pada 2025, sementara lebih dari 90 persen penduduk usia kerja tidak bekerja.
Mengungkapkan dampak terhadap harga, laporan tersebut mencatat harga-harga di Gaza tetap 274 persen di atas level 2022 pada 2025. Harga pangan juga mengalami lonjakan tajam dibandingkan sebelum konflik.
Kerusakan infrastruktur fisik diperkirakan mencapai US$35,2 miliar, lebih dari 2,5 kali lipat PDB riil Gaza dan Tepi Barat sebelum konflik. Selain itu, kerugian ekonomi dan sosial mencapai US$22,7 miliar.
UNCTAD menyatakan total kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi telah mencapai US$71,5 miliar pada awal 2026 dan masih dapat meningkat hingga tercapai gencatan senjata yang berkelanjutan.
Sementara itu, kontribusi Gaza terhadap perekonomian Palestina turun menjadi di bawah 4 persen pada 2025. PDB per kapita Gaza juga hanya mencapai 5 persen dari tingkat di Tepi Barat yang diduduki, turun dari kondisi yang hampir setara tiga dekade lalu.







