Dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih, Presiden China Xi Jinping pada Kamis, 24 September 2026, mendesak AS dan Iran untuk kembali berdialog guna mengakhiri konflik.

Selalu percaya bahwa kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati dan telah memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan. Maka dari itu (Saya) mendorong pihak-pihak terkait untuk tetap berkomitmen pada solusi damai dan mempertahankan momentum pembicaraan,”

kata Xi, dikutip dari Middle East Monitor, Jumat, 25 September 2026.

Ia pun menyampaikan dukungan terhadap kembalinya AS dan Iran pada kerangka kesepakatan yang mereka sepakati pada Juni lalu dan menyuarakan harapan bahwa kedua pihak akan mencapai kesepakatan komprehensif yang mencakup masalah nuklir.

Negosiasi Lewat Pakistan

Ilustrasi negosiasi Iran-AS. (Sumber: Foto Dibuat AI)
Ilustrasi negosiasi Iran-AS. (Sumber: Foto Dibuat AI)

Diketahui, setelah AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, Pakistan membantu mengamankan gencatan senjata pada 8 April dan kemudian menjadi tuan rumah lebih dari 20 jam pembicaraan antara pejabat Amerika dan Iran di Islamabad.

Selain itu, setelah berminggu-minggu mediasi, Pakistan dan Qatar membantu mengamankan kesepakatan antara Iran dan AS pada 18 Juni, yang memberi kedua pihak kerangka kerja dan 60 hari untuk menegosiasikan perjanjian jangka panjang yang bertujuan mengakhiri perang. Namun, kedua pihak memilih melanjutkan serangan balasan, dan ketegangan terus berlanjut.

Desak AS Soal Taiwan

Barisan Tentara Taiwan.
Barisan Tentara Taiwan. (Sumber: Unsplash/Winston Chen )

Xi juga mendesak AS untuk mengambil posisi yang benar dalam menentang kemerdekaan Taiwan dan menangani masalah Taiwan dengan bijaksana untuk meletakkan dasar yang kokoh bagi kerja sama dan hubungan strategis bilateral.

Sikap Beijing dalam menjaga persatuan nasional dan integritas wilayahnya sangat jelas,”

ujarnya.

Sebagai informasi, China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taiwan telah mempertahankan pemerintahan sendiri sejak tahun 1949.

Xi juga mengatakan bahwa membangun hubungan China-AS yang konstruktif berdasarkan stabilitas strategis bukanlah langkah sementara atau sesuatu yang dapat dicapai dalam semalam.

Ia pun menyerukan agar visi baru tentang hubungan bilateral yang konstruktif dan stabil secara strategis diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.