Wacana pergantian Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mulai mencuat di tengah ketidakpastian politik setelah perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Media IranWire melaporkan sejumlah elite politik dan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut mulai mempertimbangkan sosok lain untuk memimpin Republik Islam setelah konflik berakhir.
Laporan tersebut mengutip dua sumber yang disebut mengetahui dinamika internal rezim Iran. Menurut sumber tersebut, kesepakatan dengan Amerika Serikat dan berakhirnya perang akan menjadi momentum bagi munculnya proses pemilihan Pemimpin Tertinggi baru.
Namun, laporan itu belum menunjukkan adanya keputusan resmi mengenai pergantian Mojtaba.
Kedua sumber ini, yang memiliki hubungan erat dengan berbagai faksi di dalam rezim Republik Islam, menyatakan dalam wawancara eksklusif dengan IranWire bahwa baik para pemimpin politik dari berbagai faksi maupun sejumlah komandan IRGC meyakini bahwa kelanjutan kepemimpinan Mojtaba Khamenei, yang konon dibantu oleh kecerdasan buatan, tidak dapat dipertahankan dan hanya mengerahkan sistem tersebut,”
demikian laporan IranWire, dikutip Rabu, 30 September 2026.
Banyak Ulama Penuhi Syarat

IranWire juga mengutip sumber yang disebut memiliki hubungan dengan kantor para Grand Ayatollah atau Beyt di Qom. Sumber itu menyebut Iran masih memiliki sejumlah ulama yang dinilai memenuhi persyaratan konstitusional untuk menduduki posisi Pemimpin Tertinggi.
Segala puji bagi Tuhan, sistem ini tidak kekurangan ahli teologi yang adil, saleh, memahami dinamika zaman, serta merupakan manajer dan ahli strategi yang berani dan cakap (syarat konstitusional utama untuk kepemimpinan). Yang Mulia Seyyed Mojtaba Khamenei, karena alasan tertentu-kemungkinan besar terkait kondisi fisik, tidak mampu menjalankan semuanya,”
demikian tulis IranWire mengutip pernyataan sumber tersebut.
Sumber yang sama mengatakan elite pemerintahan disebut masih menunggu situasi politik dan keamanan mereda sebelum mengambil langkah terkait kepemimpinan.
Dalam skenario tersebut, seorang atau sekelompok ulama disebut dapat mengambil alih posisi kepemimpinan dengan tetap mempertahankan peran Mojtaba sebagai pemberi pandangan dan pengalaman.
Oleh karena itu, para pejabat tinggi negara sedang menunggu situasi mereda dan perang berakhir. Saat itulah salah satu atau sekelompok ahli teologi terhormat tersebut akan mengambil alih Welayat (perwalian/kepemimpinan). Tentu saja, tokoh-tokoh tersebut akan tetap memanfaatkan pandangan dan pengalaman Yang Mulia Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei (semoga Tuhan melindunginya).”
Menurut sumber IranWire, sejumlah anggota Majelis Ahli atau Assembly of Experts juga disebut mendukung kemungkinan pemilihan Pemimpin Tertinggi baru.
Persaingan Internal

Sumber IranWire lainnya yang disebut pernah bertugas selama bertahun-tahun di IRGC menilai dinamika politik dalam negeri Iran turut berkaitan dengan upaya mempertahankan posisi Mojtaba.
Sumber tersebut mengaitkan meningkatnya tekanan terhadap mantan Presiden Hassan Rouhani dan aktivitas terbaru “Kampanye Janfada” dengan upaya kelompok tertentu untuk mencegah proses pemilihan pemimpin baru.
Kelompok-kelompok tertentu di negara ini, khususnya individu-individu di dalam IRGC dan Basij, serta mereka yang memiliki hubungan ekonomi terbuka maupun terselubung dengan kedua institusi tersebut,memandang masa kini dan masa depan mereka semata-mata bergantung pada kelanjutan permusuhan dan perang. Ketiadaan pemimpin yang kuat merupakan keuntungan bagi mereka yang ingin mereka memanfaatkan semaksimal mungkin,”
kata sumber itu.
IranWire sebelumnya juga melaporkan adanya ketidakpuasan sejumlah pejabat senior terhadap perluasan Kampanye Janfada. Dalam laporan tersebut, sumber media menyebut Hossein Taeb, komandan Basij sekaligus mantan kepala Organisasi Intelijen IRGC, memasukkan pelatihan militer ke dalam kampanye tersebut untuk memperluas pengaruhnya terhadap cabang-cabang lain dalam rezim.
Taeb disebut mengklaim masih berkomunikasi secara rutin dengan Mojtaba Khamenei dan bahwa Mojtaba mengetahui sepenuhnya mengenai perluasan kampanye tersebut.
Laporan mengenai kemungkinan pergantian Pemimpin Tertinggi tersebut sejauh ini bersumber pada keterangan anonim yang dikutip IranWire.
Sementara itu, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran mengenai rencana mengganti Mojtaba Khamenei atau mengenai proses pemilihan pemimpin baru seperti yang disebut dalam laporan tersebut.






