Seorang pekerja laboratorium di Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk, Siberia, Rusia, meninggal dunia setelah mengalami pneumonia berat pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Korban diketahui bernama Daria Shipilova (28) yang merupakan seorang teknisi laboratorium yang bekerja di fasilitas penelitian anti-wabah di Shelekhov, wilayah Irkutsk.

Menurut laporan The Moscow Times, Shipilova diduga terpapar bakteri saat bekerja. Ia diduga mengalami sakit akibat tabung reaksi yang berisi bakteri hidup pecah.

Badan pengawas kesehatan Rusia Rospotrebnadzor menyebut Shipilova didiagnosis mengalami “pneumonia of unknown etiology” atau pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

Rospotrebnadzor juga mengatakan pemeriksaan lanjutan terhadap sampel pasien tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas profesionalnya.

Sementara itu, Kepala Republik Buryatia Alexei Tsydenov sebelumnya menyebut Shipilova kemungkinan meninggal akibat pes.

Tidak ada wabah pes di republik tersebut, termasuk di wilayah yang berbatasan dengan Mongolia,”

kata Tsydenov, dikutip dari The Moscow Times, pada Senin, 5 Oktober 2026.

Setelah kematian Shipilova, pemerintah setempat bergerak cepat untuk melakukan karantina terhadap 197 orang yang diduga telah melakukan kontak dengan Shipilova.

Namun, hasil pemeriksaan terhadap orang-orang tersebut sejauh ini tidak menunjukkan adanya gejala dan hasil pemeriksaannya pun negatif. Namun, mereka tetap melakukan isolasi dan masih dalam pemantauan medis.

Gubernur Irkutsk Igor Kobzev meminta masyarakat tetap tenang. Ia mengatakan seluruh orang yang telah teridentifikasi sebagai kontak Shipilova berada dalam pengawasan medis.

Seluruh orang yang teridentifikasi sebagai kontak telah ditempatkan dalam pengawasan medis. Hingga saat ini, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit, dan hasil tes laboratorium mereka negatif,”

ujarnya.

Kasus kematian Shipilova kemudian mendapat perhatian dari pemerintah Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya mengetahui laporan mengenai kasus fatal yang diduga berkaitan dengan pes pneumonik di wilayah Irkutsk.

Kami mengetahui adanya laporan mengenai kasus fatal yang diduga sebagai pes pneumonik di Oblast Irkutsk, Rusia. Kami memantau situasi ini secara saksama bersama CDC dan mitra antarlembaga lainnya,”

kata Departemen Luar Negeri AS, dikutip dari Al Jazeera, pada Senin, 5 Oktober 2026.

Pejabat AS tersebut menegaskan masih terdapat sejumlah informasi yang belum terkonfirmasi. Pemerintah Rusia juga didorong untuk menyampaikan informasi mengenai kasus tersebut secara cepat dan transparan.

Apa Itu Pes Pneumonik?

Pes merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pes pneumonik merupakan salah satu bentuk pes yang paling serius karena menyerang paru-paru dan dapat menular melalui partikel pernapasan atau droplet.

Apabila tidak segera ditangani, pes pneumonik dapat berkembang dengan cepat dan berakibat fatal. Namun, penyakit ini dapat diobati menggunakan antibiotik jika diagnosis dan pengobatan diberikan sedini mungkin.

Menurut CDC, pes pneumonik dapat menyebabkan sejumlah gejala, seperti demam, sakit kepala, lemas, sesak napas, nyeri dada, batuk, hingga keluarnya lendir berdarah atau berair.

Pes pneumonik juga merupakan satu-satunya bentuk pes yang dapat menular langsung dari manusia ke manusia melalui droplet pernapasan.