Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Internasional

130 Juta Nama Dicoret dari Daftar Pemilih India, Protes Membara

Mahkamah Agung India menyorot legalitas revisi daftar pemilih di tengah tuduhan diskriminasi, sengketa hak pilih, dan desakan lain.

Aksi protes di New Delhi, India, 20 Juli 2026.
Aksi protes di New Delhi, India, 20 Juli 2026. (cfr-org)

Aksi protes merebak di India setelah pihak berwenang menghapus lebih dari 130 juta nama dari daftar pemilih dan mewajibkan warga menunjukkan dokumen untuk membuktikan kelayakan mereka menggunakan hak pilih.

Para penentang menilai kebijakan tersebut secara tidak proporsional menyasar sekitar 200 juta Muslim di India, yang diperkirakan cenderung tidak mendukung Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang berhaluan nasionalis Hindu.

Melansir The New Arab, Jumat, 9 Oktober 2026, terdapat pula laporan mengenai sejumlah orang yang dicoret dari daftar pemilih karena dinyatakan “mati”, meskipun mereka sebenarnya masih hidup.

Iklan

Kebijakan tersebut menyusul perintah Komisi Pemilihan India (Election Commission of India/ECI), yang anggotanya ditunjuk oleh Modi, untuk membersihkan daftar pemilih dari nama-nama ganda, pemilih yang telah meninggal dunia, serta mereka yang tidak memenuhi syarat.

Komisi tersebut menyatakan bahwa langkah itu bertujuan mengidentifikasi pemilih yang terdaftar secara curang sekaligus mencegah “imigran ilegal asing” menggunakan hak pilih mereka.

Namun, para kritikus menilai proses tersebut berdampak tidak proporsional terhadap kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan komunitas minoritas.

Terjebak Hukum

Jutaan orang yang mengajukan banding atas pencoretan nama mereka masih terjebak dalam proses hukum di pengadilan. Akibatnya, hak pilih mereka dalam pemilihan umum yang digelar pada awal tahun ini tidak dapat digunakan.

Para anggota BJP pimpinan Modi telah lama mengeklaim bahwa sejumlah besar migran Muslim tanpa dokumen dari negara tetangga, Bangladesh, secara curang masuk ke dalam daftar pemilih India.

Perdana menteri dan partainya juga telah lama menghadapi tuduhan menggunakan retorika dan kebijakan anti-Muslim, terutama menjelang pemilihan umum. 

Hal tersebut mencakup penggunaan bahasa yang merendahkan martabat atau menstereotipkan umat Muslim, termasuk menyebut mereka sebagai “penyusup” dan menyiratkan bahwa mereka “memiliki lebih banyak anak” dengan narasi yang menggambarkan pertumbuhan populasi Muslim sebagai ancaman demografis bagi umat Hindu.

Aksi protes yang menuntut pengunduran diri Ketua ECI Gyanesh Kumar semakin meluas sejak laporan mengenai pencoretan nama pemilih mencuat. Demonstrasi yang digelar di ibu kota New Delhi pada Sabtu diperkirakan akan menarik banyak peserta.

Partai-partai oposisi juga menuduh komisi tersebut mencoret nama-nama pemilih yang sah demi menguntungkan partai berkuasa pimpinan Modi.

Tuduh

Bulan lalu, surat kabar Indian Express melaporkan bahwa sejumlah keputusan penting terkait revisi besar-besaran daftar pemilih tersebut diduga diambil tanpa persetujuan dua dari tiga komisioner pemilihan.

ECI, sebagai lembaga konstitusional, membantah tuduhan tersebut. ECI menyatakan bahwa seluruh keputusan diambil secara bulat dan sesuai dengan hukum.

Mahkamah Agung India juga telah memerintahkan pemerintah dan badan penyelenggara pemilu untuk memberikan penjelasan mengenai keputusan-keputusan yang berkaitan dengan revisi daftar pemilih tersebut. Pengadilan juga tengah mengkaji legalitas proses revisi itu.

Pada Mei lalu, pemerintah mengizinkan komisi pemilihan untuk melanjutkan pelaksanaan pemilu nasional, sembari menyerukan penerapan langkah-langkah pengamanan guna melindungi hak pilih warga yang memenuhi syarat. Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Aksi protes ini menyusul gelombang demonstrasi mahasiswa yang turun ke jalan pada musim panas tahun ini dalam “Protes Kecoa”. Aksi tersebut dipicu oleh kebocoran soal ujian, tingginya angka pengangguran, serta keterbatasab kesempatan bagi kaum muda di negara itu.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.