Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Internasional

Menlu Singapura Temui Menlu Indonesia di Tengah Isu Karhutla dan Ekspor Gas

Kunjungan Balakrishnan ini terjadi di tengah gejolak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang turut mengganggu negara tetangga.

Menlu RI Arrmanatha Christiawan Nasir Sambut Kedatangan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan. (Sumber: Owrite/Natania Longdong)
Menlu RI Arrmanatha Christiawan Nasir Sambut Kedatangan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan. (Sumber: Owrite/Natania Longdong)

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Christiawan Nasir menerima kunjungan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan di Gedung Kemlu RI, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.

Menurut pantauan Owrite.id, Balakrishnan tiba di Gedung Pancasila sekitar pukul 15.34 WIB. Ia langsung disambut Arrmanatha dan menandatangani buku tamu.

Kedua Menlu itu lantas foto bersama dan menuju ruangan untuk melakukan pertemuan.

Iklan

Kunjungan Balakrishnan ini terjadi di tengah gejolak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang turut mengganggu negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Selain itu, konflik yang saat ini berkembang di antara kedua negara yakni adanya pemangkasan ekspor gas dari RI ke Singapura.

Bahlil Potong Ekspor Gas

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Kantornya. (Sumber: Owrite/Syifa Fauziah)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Kantornya. (Sumber: Owrite/Syifa Fauziah)

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, langkah pemotongan itu dilakukan dalam koridor hukum serta batas minimum kontrak yang berlaku.

Diketahui, total pengiriman gas pipa Indonesia ke negara sahabat tersebut mencapai 409,55 billion British thermal unit per day (BBtud) dari dua wilayah, yakni Laut Natuna dan Sumatera. Dari jumlah tersebut, pemerintah memutuskan melakukan penyesuaian atau pemotongan sebesar 31 BBtud atau hanya sekitar 8 persen.​

“Yang kemarin kita potong itu adalah 31 BBtud, hanya kurang lebih sekitar 8 persen. Dan itu masih di batas kontrak minimum. Batas kontrak minimum kita itu adalah sekitar 91 sampai 92, dan kita baru (kurangi) sekitar 8 persen,”

kata Bahlil saat Konferensi Pers Terkait Ketahanan Energi, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, 26 Oktober lalu.

Menurut Bahlil, penyesuaian pasokan ini terpaksa diambil selain untuk memenuhi kebutuhan domestik yang mendesak, juga karena faktor pemeliharaan (maintenance). Oleh karena itu, ia dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak pernah melanggar komitmen perjanjian internasional.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat