Setidaknya 33 negara di seluruh dunia telah mengeluarkan pedoman bagi setiap rumah tangga untuk menimbun makanan, air minum, dan perlengkapan penting lainnya sebagai persiapan menghadapi potensi keadaan darurat, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas konflik geopolitik, cuaca ekstrem, dan gangguan terhadap layanan penting.
Menurut laporan dari berbagai media internasional, rekomendasinya bervariasi, termasuk Prancis dan Inggris yang mendesak warga untuk menjaga persediaan yang cukup setidaknya selama 72 jam.
Melansir dari media Malaysia, The Vibes, Kamis, 5 November 2026, pemerintah daerah Normandia di Prancis juga mendesak warga untuk tidak menunggu hingga keadaan darurat terjadi sebelum bersiap-siap.
Iklan
“Jangan menunggu keadaan darurat terjadi, persiapkan diri sekarang,”
demikian bunyi pernyataan yang dibagikan di media sosial pada 3 November lalu.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga mendorong warganya untuk menyimpan makanan yang tidak mudah rusak, termasuk kacang kalengan dan sup, sebagai bagian dari persiapan darurat mereka.
Kanada, Jepang, Meksiko, dan Belanda juga merekomendasikan untuk menyimpan persediaan selama tiga hari, sementara Swedia dan Norwegia mendorong masyarakatnya untuk bersiap hingga satu minggu.
Jerman merekomendasikan untuk menyimpan persediaan kebutuhan pokok hingga 10 hari untuk membantu para rumah tangga mengatasi jika bantuan darurat atau layanan penting terganggu.
Di Amerika Serikat (AS), pedoman resmi pemerintah juga mendorong warga untuk menyiapkan persediaan makanan, air, dan kebutuhan darurat untuk beberapa hari.
Sementara itu, India menyarankan warganya untuk menyiapkan perlengkapan darurat bencana, meskipun pedoman yang dikutip dalam laporan tersebut tidak menentukan periode penimbunan bahan makanan.
Adapun perlengkapan yang direkomendasikan meliputi makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, baterai, senter, dan radio.
Uni Eropa Kenalkan Strategi Kesiapsiagaan
Globe Eropa Utara, menampilkan label negara dan perbatasannya.(Foto: Pexels/ Lara Jameson)
Sementara itu, Uni Eropa telah memperkenalkan strategi kesiapsiagaan ini pada Maret 2025 sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik, ancaman konflik, dan risiko bencana terkait iklim.
Di Amerika Serikat, Pentagon juga telah memperkenalkan inisiatif FORTRESS untuk memperkuat ketahanan instalasi militer, dengan tujuan memungkinkan lebih banyak pangkalan untuk beroperasi secara mandiri hingga 90 hari jika rantai pasokan terganggu. Namun, inisiatif militer ini terpisah dari panduan publik tentang perlengkapan darurat rumah tangga.
Meningkatnya penekanan pada kesiapsiagaan bukan berarti pemerintah mengharapkan perang atau bencana besar akan terjadi dalam waktu dekat.
Sebaliknya, rekomendasi tersebut dimaksudkan untuk membantu masyarakat mengatasi gangguan sementara sambil menunggu bantuan darurat tiba.