Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa perang yang diperintahkannya terhadap Iran menjadi penyebab kekalahan telak Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu. Namun, di tengah tekanan politik yang semakin besar, para analis menilai Trump memiliki sedikit pilihan yang menguntungkan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Belum jelas langkah apa yang akan diambil Trump setelah posisinya melemah secara politik menyusul keberhasilan Partai Demokrat merebut kendali atas Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam pemungutan suara Selasa.
Trump juga masih terjebak di antara dua pilihan sulit, yakni mengakhiri perang dengan Iran melalui jalur diplomasi atau memenuhi ancamannya untuk menyelesaikan perang dengan Teheran. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan tajam harga bensin yang harus ditanggung para pemilih Amerika.
Iklan
“Trump kini berada dalam dilema: Eskalasi tidak menawarkan jalan yang jelas menuju kemenangan dan berisiko semakin menghancurkan kepresidenannya, sementara diplomasi menawarkan jalan keluar yang potensial,”
kata Sina Toossi, peneliti senior nonresiden di Center for International Policy, dikutip dari The New Arab, Kamis, 5 November 2026.
Senat Bakal Batasi Pilihan Trump
Hasil Pemilu Sela AS hingga pukul 14.58 WIB. (Sumber: Associated Press)
Toossi menambahkan bahwa Kongres Demokrat yang baru juga akan memiliki wewenang pengawasan dan pendanaan yang signifikan mulai Januari, yang akan semakin membatasi pilihan Trump.
Pada Rabu, Trump mengakui bahwa ssebagian besar memang benar bahwa perang dengan Iran dan lonjakan harga bahan bakar akibat konflik tersebut menjadi penyebab kekalahan besar Partai Republik.
Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa dirinya akan melakukannya lagi. Pernyataan itu mengulang sikap yang disampaikannya setelah tempat pemungutan suara ditutup pada Selasa, 3 November lalu, meskipun partainya mengalami kekalahan telak.
Wakil Presiden JD Vance, yang berpotensi menjadi kandidat pengganti Trump dalam pemilihan presiden 2028, menyampaikan penilaian lebih tegas.
“Alasan kita kalah adalah perang. Presiden sendiri mengatakan demikian tadi malam,”
tulis Vance dalam unggahan di X.
Pemilih Kirim Pesan Tegas
Banyak pemilih Amerika menyebut tingginya biaya hidup dan perang dengan Iran sebagai alasan utama di balik pilihan mereka dalam pemilu.
Bagi kelompok pemilih yang biasanya menjadi basis kuat Partai Republik, seperti para petani, lonjakan harga energi telah memicu keputusasaan.
“Harga energi yang tinggi benar-benar hanya menyebabkan keputusasaan,”
kata Charles Hall, direktur eksekutif Asosiasi Produsen Kedelai Carolina Utara.
Hall, yang juga merupakan pemilih di North Carolina, menyoroti pergeseran besar dukungan di negara bagian tersebut ke arah Demokrat.
“Itu menunjukkan kepada saya bahwa mereka memilih menentang sesuatu. Jika mereka petani, mereka mungkin memilih menentang harga solar yang tinggi,”
tutur Hall.
Sejak akhir Februari, Teheran membalas serangan AS-Israel terhadap Iran dengan memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi energi global. Langkah tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia.
Bendera Amerika Serikat di salah satu Kedutaan Besar. (Sumber: Unsplash/Chris Kursikowski)
Rakyat AS Tolak Agenda Trump
Namun, James Lindsay, peneliti senior di Council on Foreign Relations, mengatakan bahwa kekalahan telak bersejarah yang dialami Partai Republik pada hari pemilihan terjadi karena alasan yang jauh melampaui Iran.
Menurut Lindsay, “tsunami biru” atau gelombang kemenangan Demokrat mencerminkan penolakan pemilih terhadap sebagian besar agenda Trump. Padahal, Trump memenangkan pemilihan presiden 2024 dengan janji membuat biaya hidup lebih terjangkau bagi masyarakat Amerika.
“Apa yang kita lihat selama dua tahun terakhir adalah bahwa orang Amerika percaya bahwa biaya hidup menjadi semakin tidak terjangkau. Perang Iran jelas berperan dalam hal itu dengan menaikkan harga bensin dan solar,”
ujar Lindsay.
Situasi pun juga semakin memburuk karena Trump sering berperilaku acuh tak acuh terhadap penderitaan dan kesengsaraan rakyat Amerika.
Toossi menegaskan bahwa hasil pemilu telah mengirimkan pesan yang tidak bisa diabaikan oleh pemerintahan Trump.
“Pesan dari para pemilih jelas: Mereka menginginkan keringanan dari biaya ekonomi perang, bukan lebih banyak perang,”