Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 1,5 persen penduduk DKI Jakarta berusia di atas 15 tahun mengalami depresi. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi. mengatakan pada dasarnya anak remaja sangat labil. Ketika merasa tidak nyaman di luar dirinya, akan berdampak pada dirinya.
Maka kalau orang yang sudah memiliki perjalanan kehidupan yang cukup panjang mungkin sudah dapat mengatasinya, kalau remaja belum,”
Prof Romi kepada owrite, Senin, 24 November 2025.
Menurut Prof Romi, kasus depresi pada usia di atas 15 tahun meningkat karena kemungkinan di Jakarta segala sesuatunya itu berjalan dengan cepat, terutama dengan adanya teknologi yang meningkat dan penggunaan media sosial.
Informasi yang ibaratnya membajir itu bisa berdampak pada kesehatan mental seseorang, misalnya nggak tahan dengan apa yang terjadi, netizen mengkritik dia, itu bisa berdampak juga pada depresinya seorang remaja,”
Prof Romi.
Tanda-tanda Depresi
Prof Romi juga menjelaskan tentang tanda-tanda seseorang mengalami depresi. Hal yang bisa dilihat adalah dimulai dari perilakunya, seperti menggigit kuku, tidak mau melakukan aktivitas seperti biasanya, hingga menarik diri.
Seseorang yang depresi juga biasanya tidak mau makan, tidak bisa mengontrol dirinya, atau bahkan merasa tidak nyaman, dia pelarian maunya main terus, tapi diajak ngomong nggak nyambung,”
Prof Romi.
Cara Mengatasi Depresi
Lebih lanjut Prof Romi mengatakan seseorang yang mengalami depresi, dia tidak tahu kalau dirinya sedang depresi. Tetapi dia memahami ada rasa tidak nyaman pada dirinya dan itu yang tidak bisa diungkapkan.
Oleh karena itu perlu adanya orang lain di lingkungannya untuk menanyakan hal tersebut. Social support itu juga sangat berpengaruh dan sangat membantu orang-orang yang mengalami stres atau depresi,”
Prof Romi.
Prof Romi berkata, orang di lingkungannya bisa mengajak bicara atau mendengarkan yang dikatakan orang tersebut, sehingga membuat dia merasa nyaman.
Oleh karena itu memang ketika dia nggak cerita maka kita harus mencoba untuk bertanya dan mendengarkan orang tersebut untuk bercerita atau berbicara dengan pertanyaan simple. Atau menanyakan sesuatu yang tidak terkait langsung dengan masalahnya,”
Prof Romi.
Menurut Prof Romi, orang-orang yang mengalami stres tidak bisa mencari solusi atau jalan keluar dari masalahnya.
Oleh karena itu harus dibantu untuk dilihatkan bahwa masih banyak jalan keluar yang bisa menyelesaikan masalah tersebut dan tidak perlu menyalahkan diri sendiri.
Kalau orang depresi tidak diberikan arahan dan treatment bisa mengambil tindakan yang tidak sewajarnya, seperti mengakhiri hidup, itu yang dikhawatirkan. Sebetulnya akan mengganggu sekali dirinya dan bisa berdampak pada lingkungan, apalagi yang bersangkutan tidak bisa lagi meregulasi diri dan mengatur diri,”
Prof Romi.
