Ahli Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menyebut bahwa campak bukan penyakit anak biasa.
Menurut data WHO, tahun 2024 sudah 11 juta kasus global dengan 95 ribu kematian khususnya pada anak di bawah 5 tahun.
Dicky mengatakan dalam epidemiologi, penyakit menular campak itu punya karakteristik berbahaya karena virus sangat menular menyerang anak dengan imunitas rendah dan menyebabkan atau menurunkan sistem imun atau disebut dengan imun amnesia sehingga anak memiliki risiko infeksi lain yang bisa menyebabkan kematian.
Jadi kematian anak yang terinfeksi campak itu karena tidak divaksin dan vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap,”
ujar Dicky Budiman kepada owrite.
Lebih lanjut Dicky Budiman mengatakan bahwa komolikasi campak bukan hanya demam dan ruam, tapi ada kondisi yang lebih berat, seperti pneumonia.
Komplikasi pneumonia paling sering terjadi dan menyebabkan kematian anak dengan campak.
Selain itu encephalitis atau redang otak, meskipun kasusnya hanya satu dari seribu kasusu, namun bisa menyebabkan kerusakan neurologis permanen maupun kematian.
Kemudian diare berat dan dehidrasi, yang juga berkontribusi pada kematian anak dengan status gizi buruk.
Campak ini, selain menuruan sistem imun selama beberapa minggu hingga bulan, maka anak lebih rentan terkena infeksi sekunder, sepertu pneumonia bakteri, tuberculosis atau infeksi lain.
“Ada satu komplikasi lagi yang sangat jarang tapi fatal dan itu bisa muncul bertahun-tahun setelah terinfeksi campak yaitu subacute sclerosing panencephalitis,”
jelas Dicky.
Lebih lanjut Dicky mengatakan bahwa, anak yang terkena campak bukan berhenti pada saat dia sudah membaik, tapi ada risiko yang bisa muncul bertahun setelah infeksi.
Nah mengapa campak ini jadi ancaman kesehatan global? Sekali lagi karena penurunan cakupan imunisasi yang akhirnya menyebabkan terjadinya wabah campak,”
jelas Dicky.
WHO sendiri sudah menekankan bahwa untuk menjaga wabah campak cakupan vaksin campaknya harus di atas 95 persen.

