Hasil pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan sekitar 35.000 anak atau 1,08% yang teridentifikasi mengalami gangguan jiwa.
Temuan tersebut menjadi salah satu gambaran masalah kesehatan jiwa pada anak yang perlu dideteksi dan ditangani sejak dini.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, gangguan jiwa dapat dialami siapa saja dan tidak selalu terlihat secara fisik.
Karena itu, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi mental maupun perilaku, terutama pada anak.
Orang sebenarnya kelihatan sehat, tetapi kalau kita evaluasi, dia punya masalah. Tidak kelihatan secara fisik, tetapi secara mental dia punya masalah. Ini banyak sekali terjadi di lingkungan kita sehari-hari,”
ujar Dante dalam keterangan resminya, Jakarta 11 September 2026.
Menurut Dante, deteksi dini penting dilakukan karena masalah kesehatan jiwa dapat berkembang secara perlahan dan tidak langsung terlihat sebagai kondisi krisis.
35.000 Anak
Selain menemukan sekitar 35.000 anak dengan gangguan jiwa, pelaksanaan CKG juga menemukan sekitar 186.000 orang dewasa mengalami gangguan depresi dan kecemasan.
Dante mengatakan, masyarakat dapat mengenali sejumlah perubahan yang muncul secara konsisten selama lebih dari dua minggu.
Gejalanya antara lain gangguan pola tidur, merasa lemas berulang, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok.
Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis,”
tegasnya.
Gangguan Kejiwaan
Sementara itu, secara global, sekitar satu dari tujuh orang hidup dengan gangguan kejiwaan. Kondisi tersebut, kata Dante, menunjukkan kesehatan jiwa merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Untuk membantu orang yang mulai menunjukkan tanda masalah kejiwaan, Dante mengajak masyarakat menerapkan empat langkah sederhana, yakni Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan.
“Tanya” dilakukan dengan menanyakan kondisi seseorang ketika terlihat mengalami perubahan. Selanjutnya, “Dengarkan” dengan memberikan ruang untuk bercerita tanpa menghakimi.
Kemudian, “Temani” agar orang tersebut mengetahui bahwa dirinya tidak menghadapi masalah seorang diri. Terakhir, “Hubungkan” dengan membantu mengakses keluarga atau tenaga profesional apabila membutuhkan pertolongan lebih lanjut.
Selain melalui CKG, skrining kesehatan jiwa dapat dilakukan secara mandiri melalui SATUSEHAT menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20).
Masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa juga dapat mengakses layanan Healing119 secara gratis melalui 119 ekstensi delapan.







