Kementerian Kesehatan menyoroti masih banyak masalah kesehatan jiwa di Indonesia yang belum terdeteksi. Salah satunya ialah stigma yang membuat masyarakat enggan memeriksakan kesehatan jiwa.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan kesehatan jiwa merupakan persoalan kesehatan serius dan dapat dialami oleh siapa saja.

“Masalah kesehatan jiwa adalah masalah kesehatan yang serius. Karena siapa pun bisa mengalami, dari anak-anak, remaja, dewasa sampai lansia,”

kata Aji kepada Owrite.id, dikutip pada Rabu, 16 September 2026.

Dia berpendapat persoalan kesehatan jiwa di Indonesia memiliki cakupan yang besar dan kompleks. Namun, sebagian kasus masih belum terungkap karena masyarakat menghadapi stigma ketika hendak mencari bantuan.

Salah satu penyebab adalah masih ada anggapan negatif terhadap masalah kesehatan jiwa. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa enggan atau malu untuk datang ke fasilitas kesehatan dan memeriksakan dirinya.

“Banyak yang belum terdeteksi karena stigma, orang merasa enggan atau malu untuk datang ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan kesehatan jiwa,”

tutur Aji.

Spektrum

Ia menilai peningkatan literasi masyarakat mengenai kesehatan jiwa menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi stigma. Masyarakat perlu memahami bahwa masalah kesehatan jiwa memiliki spektrum luas.

Aji menegaskan masalah kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan skizofrenia. Kondisinya juga mencakup depresi, kecemasan, masalah psikologis, krisis psikologis, hingga kondisi yang berkaitan dengan menyakiti diri dan risiko bunuh diri.

“Masalah kesehatan jiwa bukan hanya skizofrenia. Ada depresi, kecemasan, masalah psikologis, krisis psikologis, self-harm, sampai risiko bunuh diri,”

kata dia.

Penanganan kesehatan jiwa karena itu perlu dilakukan sejak tahap promosi dan pencegahan, bukan hanya ketika seseorang sudah mengalami gangguan berat. Deteksi dini dan intervensi awal menjadi bagian dari rangkaian upaya tersebut.

“Pendekatan harus mencakup promosi, pencegahan, deteksi dini, intervensi awal, penguatan layanan primer dan berbasis komunitas, penanganan krisis, sampai pemulihan,”

ucap Aji.

Interaksi

Kemudian, kondisi kesehatan jiwa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Faktor tersebut tidak hanya berasal dari kondisi individu, tetapi juga dapat berkaitan dengan keluarga, pendidikan, pekerjaan, kondisi sosial dan ekonomi, lingkungan, budaya, hingga ruang digital.

“Determinan kesehatan jiwa itu luas, ada faktor individu dan kesehatan, keluarga, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, lingkungan, budaya, dan juga ruang digital,”

ujar dia.

Dengan banyaknya faktor yang berpengaruh, Aji mengatakan upaya menjaga kesehatan jiwa tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan. Dukungan dari lingkungan sekitar juga diperlukan untuk menciptakan kondisi yang membantu masyarakat lebih terbuka dalam mencari pertolongan.

“Upaya kesehatan jiwa tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan. Keluarga, sekolah, tempat kerja, komunitas, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, serta sektor lain harus ikut berperan,”

terang Aji.