Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan pada kelompok usia muda, terutama perempuan.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, prevalensi anemia pada kelompok usia 15–24 tahun tercatat sebesar 15,5 persen.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, prevalensi anemia pada perempuan mencapai 18 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki sebesar 14,4 persen.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan zat besi pada perempuan perlu mendapat perhatian, terlebih mereka mengalami menstruasi yang menyebabkan tubuh kehilangan darah secara berkala.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kekurangan zat besi dan anemia pada kelompok sasaran adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD).

Aturan Minum TTD

Pemberian TTD di Indonesia memiliki sasaran dan aturan tertentu. Berdasarkan Surat Edaran Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Nomor HK 03.03/V/0595/2016, TTD diberikan kepada remaja putri usia 12–18 tahun melalui institusi pendidikan serta wanita usia subur (WUS) usia 15–49 tahun di lingkungan kerja.

TTD yang diberikan mengandung 60 mg zat besi elemental dan 0,4 mg asam folat. Untuk remaja putri, aturan pemberiannya adalah satu tablet setiap minggu sepanjang tahun.

Konsumsi Rutin

Pelaksanaannya dapat dilakukan melalui sekolah, misalnya dengan menentukan satu hari khusus untuk minum TTD bersama setiap minggu. Sementara itu, pemberian TTD kepada WUS dapat dilakukan melalui tempat kerja atau secara mandiri.

Dengan demikian, istilah “rutin” dalam program TTD tidak selalu berarti harus diminum setiap hari. Pada program pencegahan untuk remaja putri, misalnya, jadwal yang ditetapkan adalah satu tablet per minggu.

Perempuan Rentan Anemia

Perempuan memiliki beberapa kondisi yang membuat kebutuhan zat besi perlu mendapat perhatian lebih. Salah satunya adalah menstruasi.

Saat menstruasi, tubuh kehilangan sejumlah darah sehingga zat besi yang ikut hilang perlu digantikan. Risiko kekurangan zat besi dapat semakin besar pada perempuan yang mengalami menstruasi dengan perdarahan lebih banyak atau berlangsung lebih lama.

Kebutuhan zat besi juga meningkat selama kehamilan. Tubuh membutuhkan lebih banyak darah untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Setelah melahirkan, kebutuhan zat besi tetap perlu diperhatikan untuk membantu pemulihan tubuh.

Selain itu, pola makan yang rendah sumber zat besi juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi. Kondisi ini misalnya dapat terjadi ketika seseorang jarang mengonsumsi daging, ikan, atau sumber zat besi lainnya.

Manfaat Minum TTD

Konsumsi TTD sesuai anjuran dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi tubuh. Zat besi merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Pada perempuan yang mengalami anemia akibat kekurangan zat besi, suplementasi zat besi juga dapat menjadi bagian dari penanganan. Ketika anemia teratasi, keluhan seperti mudah lelah dan lemas dapat membaik.

Bagi ibu hamil, pemenuhan zat besi juga penting karena kebutuhan tubuh terhadap zat besi meningkat selama kehamilan.

Siapa yang Perlu?

Tidak berarti semua perempuan harus mengonsumsi TTD tanpa melihat kondisinya. Pemberian TTD perlu disesuaikan dengan kelompok sasaran dan kebutuhan masing-masing.

Beberapa kelompok yang perlu mendapat perhatian terhadap asupan zat besi antara lain:

  • Remaja putri, sebagai salah satu sasaran program pemberian TTD untuk mencegah anemia.
  • Perempuan dengan menstruasi berat, karena kehilangan darah yang lebih banyak dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi.
  • Ibu hamil, karena kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan.
  • Perempuan dengan asupan zat besi rendah, terutama jika pola makannya tidak banyak mengandung sumber zat besi.
  • Orang yang telah didiagnosis anemia akibat kekurangan zat besi, sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Jadi, kebutuhan TTD tidak bisa disamaratakan untuk setiap perempuan. Jenis, dosis, dan lama penggunaannya dapat berbeda tergantung kondisi dan tujuan pemberiannya.

Efek Samping

Meski bermanfaat, konsumsi suplemen zat besi juga dapat menimbulkan efek samping pada sebagian orang. Keluhan yang dapat muncul antara lain mual, sembelit, atau diare.

Selain itu, konsumsi zat besi dalam jumlah berlebihan juga tidak dianjurkan. Tubuh memiliki kebutuhan zat besi tertentu, sehingga penggunaan suplemen sebaiknya mengikuti aturan yang diberikan.

Zat besi juga dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Karena itu, seseorang yang sedang mengonsumsi obat tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan suplemen zat besi tambahan.

Rutin mengonsumsi TTD sesuai sasaran dan aturan dapat membantu mencegah kekurangan zat besi dan anemia, terutama pada kelompok perempuan yang memiliki risiko lebih tinggi.