Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular dengan beban kematian terbesar di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) dalam Global Tuberculosis Report 2025 mencatat sekitar 1,23 juta orang meninggal akibat TB sepanjang 2024, termasuk 150 ribu orang dengan HIV.

Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Erlina Burhan mengatakan tingginya angka kematian tersebut menjadi perhatian karena TB sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan.

“Saya sering merasa miris melihat data dari WHO tahun 2025. Lebih dari 1,2 juta orang di dunia meninggal karena TB tiap tahun, padahal penyakit ini sepenuhnya bisa dicegah dan disembuhkan,”

kata Erlina, dikutip pada Selasa, 22 September 2026.

Sumbangan Terbesar

Beban TB juga masih besar di Indonesia. WHO memperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia pada 2024. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbesar kedua secara global setelah India.

Dia berpendapat tingginya kasus TB dapat ditekan apabila penyakit tersebut ditemukan sedini mungkin. Diagnosis lebih cepat memungkinkan pasien segera mendapatkan pengobatan sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

“Angka ini sebenarnya bisa ditekan kalau lebih banyak kasus terdeteksi lebih awal. Semakin cepat TB ditemukan, semakin besar peluang sembuh total dan semakin kecil risiko menularkan ke orang di sekitar,”

ujar Erlina.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, terutama jika disertai gejala lain seperti keringat malam, demam, atau penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

“Kalau muncul gejala itu, segera periksa ke fasilitas kesehatan dan jangan ditunda. Tes TB sekarang jauh lebih cepat dan mudah diakses dibanding dulu,”

kata Erlina.

Jangan Takut

Di sisi lain, upaya menemukan kasus TB tidak hanya berkaitan dengan akses pemeriksaan. Erlina menilai stigma terhadap pasien juga dapat menjadi hambatan karena membuat sebagian orang enggan memeriksakan diri atau memilih menyembunyikan gejala.

“TB itu bukan aib. Stigma justru membuat banyak orang takut periksa atau menyembunyikan gejala. Itulah yang membuat penularan makin sulit dikendalikan,”

tutur dia.

Karena itu, pasien TB yang sedang menjalani pengobatan membutuhkan dukungan agar dapat menyelesaikan terapi sesuai jadwal. Erlina menekankan bahwa pasien yang telah menjalani pengobatan, terutama setelah beberapa minggu, pada umumnya tidak menularkan TB lagi.

“(Hal) yang mereka butuhkan bukan dijauhi, tapi didukung sampai tuntas pengobatan,”

ucap dia.