Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jakarta meningkat 15 persen. Di balik kenaikan tersebut, masyarakat perlu memahami bahwa ISPA bukan penyakit yang hanya disebabkan satu jenis virus atau bakteri.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan ISPA merupakan istilah klinis yang mencakup berbagai keluhan pada saluran pernapasan. Penyebabnya pun beragam, mulai dari virus hingga bakteri.

ISPA itu payung besar untuk gejala seperti batuk, pilek, dan demam. Penyebabnya bisa banyak, antara lain rhinovirus, adenovirus, RSV, Mycoplasma, Streptococcus, sampai Influenza A dan B,”

ujar Dicky dalam keterangannya Rabu 23 September 2026.

Karena memiliki banyak kemungkinan penyebab, menurut Dicky, peningkatan angka ISPA tidak dapat langsung dimaknai sebagai peningkatan salah satu patogen tertentu.

Data tersebut pada dasarnya menggambarkan agregat kasus yang terdeteksi melalui layanan kesehatan, khususnya di tingkat Puskesmas.

Angka ISPA yang meningkat bukan merupakan diagnosis spesifik terhadap satu penyakit atau satu patogen. Itu merupakan gambaran kumpulan gejala dan kasus yang ditemukan di layanan kesehatan,”

katanya.

Dicky menambahkan, untuk memastikan seseorang terinfeksi Influenza A diperlukan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis saja tidak cukup untuk membedakan Influenza A dari berbagai penyebab ISPA lainnya.

Kalau ingin mengatakan penyebabnya Influenza A, harus ada pemeriksaan laboratorium seperti antigen atau PCR. Tidak bisa hanya berdasarkan gejala klinis,”

ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan ISPA pada periode pancaroba merupakan pola yang lazim terjadi. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya transmisi berbagai patogen saluran pernapasan dan tidak secara otomatis menunjukkan munculnya ancaman penyakit baru.