Etomidate jadi perbincangan usai selebgram Julia Prastini atau yang akrab disapa Jule diduga menggunakan vape yang mengandung zat tersebut.
Karena kasus tersebut, ibu tiga anak itu ditangkap di sebuah apartemen di Cilandak, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Senin, 14 September 2026.
Ia diamankan saat hendak menerima paket vape yang mengandung zat etomidate.
Zat yang disebut dalam pengungkapan kasus itu bukan sekadar bahan yang ditemukan dalam produk vape, tetapi sebenarnya memiliki fungsi medis sebagai obat anestesi.
Lantas apa sih sebenarnya zat etomidate itu? Berikut penjelasannya seperti dilansir dari berbagai sumber.
Obat Penenang
Etomidate merupakan obat penenang yang digunakan dalam anestesi intravena, terutama karena kemampuannya menjaga kondisi hemodinamik pasien tetap relatif stabil. Meski memiliki sejumlah keunggulan, obat ini juga mempunyai efek samping serius yang membuat penggunaannya perlu dibatasi.
Etomidate pertama kali ditemukan pada 1964 dan mulai digunakan dalam praktik klinis pada 1972. Saat itu, obat ini dipandang sebagai terobosan karena dinilai lebih mampu mempertahankan tekanan darah dan fungsi pernapasan dibandingkan sejumlah obat anestesi lain, seperti tiopental.
Namun, penelitian pada dekade 1980-an menemukan persoalan penting. Etomidate diketahui dapat menghambat produksi hormon steroid di kelenjar adrenal, sehingga berpotensi meningkatkan risiko komplikasi, terutama pada pasien dengan kondisi kritis. Temuan tersebut kemudian mengubah pemanfaatan etomidate dan membuat obat ini lebih banyak digunakan untuk induksi anestesi dalam prosedur singkat.
Secara farmakologis, etomidate bekerja dengan memperkuat aktivitas GABA atau asam gamma-aminobutirat, yakni senyawa neurotransmiter yang berperan dalam menekan aktivitas sistem saraf. Etomidate berikatan dengan reseptor GABA-A di otak dan meningkatkan masuknya ion klorida ke dalam sel saraf.
Proses tersebut membuat aktivitas saraf menurun sehingga pasien mengalami rasa kantuk dan kemudian kehilangan kesadaran dalam waktu sangat singkat.
Etomidate juga mempunyai pengaruh terhadap pembuluh darah. Penelitian pada aorta kelinci menunjukkan bahwa obat ini dapat bekerja sebagai penghambat saluran kalsium dan menyebabkan relaksasi otot pembuluh darah. Meski demikian, pengaruh tersebut relatif kecil dibandingkan sejumlah obat anestesi lainnya.
Penurunan Tekanan Darah
Etomidate umumnya tidak menyebabkan penurunan tekanan darah maupun denyut jantung secara signifikan. Karakteristik ini membuatnya kerap dipertimbangkan pada pasien dengan kondisi kardiovaskular yang rentan, termasuk pasien dengan gangguan fungsi jantung atau syok.
Dibandingkan propofol dan kelompok barbiturat, pengaruh etomidate terhadap sistem pernapasan juga relatif lebih ringan. Kondisi tersebut dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan setelah tindakan anestesi.
Dari sisi onset, etomidate dapat membuat pasien kehilangan kesadaran sekitar 30–60 detik setelah disuntikkan. Efeknya juga relatif singkat dan biasanya berakhir dalam waktu sekitar 3–5 menit karena obat dimetabolisme dengan cepat oleh enzim di dalam tubuh.
Namun, keunggulan tersebut tidak berarti etomidate bebas dari risiko. Salah satu efek yang paling menjadi perhatian adalah kemampuannya menghambat enzim 11β-hidroksilase di kelenjar adrenal. Enzim tersebut berperan dalam proses pembentukan kortisol.
Hambatan ini dapat terjadi bahkan setelah satu kali pemberian dan efeknya dapat bertahan sekitar 6–8 jam. Pada pasien kritis, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan infeksi.
Efek samping lain juga dapat muncul. Sekitar 20–50 persen pasien dilaporkan mengalami nyeri di lokasi penyuntikan. Etomidate juga dapat memicu mioklonus, yaitu gerakan otot yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terkendali sehingga terkadang tampak menyerupai kejang.
Dalam kondisi tertentu, seperti pada pasien lanjut usia atau mereka yang mengalami cedera kepala berat, obat ini juga dapat menyebabkan tekanan darah turun.
Risiko yang lebih serius dapat terjadi apabila etomidate digunakan secara tidak semestinya, termasuk dalam produk vape. Paparan zat tersebut dapat berkaitan dengan penurunan kesadaran, apnea atau berhentinya pernapasan, hingga kematian.
Salah satu laporan dari China mencatat kasus pria berusia 47 tahun yang meninggal setelah mengalami keracunan etomidate secara oral. Kondisi tersebut disertai edema paru atau penumpukan cairan di paru-paru serta kerusakan hati.
Risiko overdosis juga dapat meningkat ketika etomidate dicampurkan dengan zat lain, khususnya opioid seperti fentanyl maupun kelompok stimulan.
Di Korea Selatan, penyalahgunaan etomidate disebut meningkat setelah propofol mendapat perhatian sebagai zat yang disalahgunakan, sehingga pemerintah kemudian memperketat pengaturan terhadap etomidate.
Etomidate di Liquid Vape
Kemunculan etomidate dalam liquid vape berkaitan dengan perkembangan pasar narkoba ilegal dan produk psikoaktif baru di sejumlah negara.
Di Philadelphia, Amerika Serikat, misalnya, etomidate pernah ditemukan sebagai kontaminan dalam pasokan heroin.
Keberadaan zat tersebut dikaitkan dengan kasus overdosis yang ditandai penurunan kesadaran, meski tidak selalu disertai gangguan pernapasan. Pada 2024, etomidate dilaporkan terdeteksi dalam sekitar 9 persen sampel narkoba ilegal yang diperiksa di Philadelphia dan kerap ditemukan bersama opioid sintetis.
Fenomena serupa juga dilaporkan di kawasan Asia Tenggara. UNODC melaporkan adanya produk e-liquid yang mengandung etomidate di sejumlah negara, termasuk Singapura, Thailand, dan Kamboja.
Di Hong Kong, produk yang mengandung zat tersebut dikenal dengan sebutan “space oil” dan dipasarkan sebagai alternatif dari kanabis.
Meski tergolong obat keras, etomidate relatif mudah diselundupkan karena dapat berada dalam bentuk cair serta tidak memiliki bau yang kuat.
Di Thailand, aparat bahkan pernah mengungkap fasilitas produksi ilegal yang disebut mampu menghasilkan sekitar 200 kilogram etomidate dengan menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya.
Sejumlah negara, termasuk Korea Selatan dan China, kemudian memperketat pengawasan terhadap etomidate beserta senyawa analognya, seperti metomidate.
Namun, perkembangan pasar gelap membuat munculnya berbagai varian baru tetap menjadi tantangan karena zat-zat tersebut dapat dikembangkan untuk menyulitkan proses identifikasi dan pengawasan.






