Jangan anggap sepele marah hebat, stres berat, atau kecemasan berlebihan. Ledakan emosi tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga dapat memicu respons tubuh yang berdampak pada sistem kardiovaskular.
Saat seseorang mengalami stres emosional, tubuh akan melepaskan hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol. Kondisi ini dapat membuat denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, dan pembuluh darah mengalami penyempitan.
Pada orang yang memiliki penyakit jantung koroner, perubahan tersebut dapat memberikan beban tambahan pada jantung. Lonjakan tekanan darah dan denyut jantung secara tiba-tiba juga berpotensi memicu gangguan pada plak di pembuluh darah koroner.
Jika plak tersebut pecah, proses pembekuan darah dapat terjadi dan membentuk sumbatan. Akibatnya, aliran darah menuju otot jantung dapat terganggu atau terhenti sehingga meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung.
Mengapa Berdampak pada Jantung?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Hana Soraya, BMedSci (Hons), Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa stres emosional dapat menjadi salah satu pemicu munculnya serangan jantung.
Hal tersebut disampaikannya dalam podcast bersama RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.
Menurut dr. Hana, salah satu gejala serangan jantung yang perlu diwaspadai adalah munculnya nyeri dada secara tiba-tiba dengan sensasi seperti diremas, ditekan, atau diikat. Stres emosional dapat menjadi salah satu kondisi yang memicu keluhan tersebut.
Artinya, ledakan emosi bukan semata-mata persoalan psikologis. Dalam kondisi tertentu, respons tubuh terhadap stres dapat memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular.
Risiko juga dapat meningkat ketika stres berlangsung dalam waktu lama. Stres kronis dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan proses peradangan yang berpengaruh terhadap kesehatan pembuluh darah.
Risiko tersebut menjadi lebih perlu diperhatikan apabila seseorang juga memiliki faktor risiko penyakit jantung, seperti hipertensi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok.
Kesedihan Juga Perlu Diwaspadai
Stres emosional tidak selalu berbentuk kemarahan. Kesedihan mendalam, kecemasan berlebihan, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, maupun persoalan pribadi juga dapat memicu respons stres dalam tubuh.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan memperhatikan makanan dan aktivitas fisik. Kemampuan mengelola stres dan emosi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung.
Pola makan sehat, aktivitas fisik secara teratur, tidur yang cukup, kemampuan mengelola stres, serta dukungan sosial dapat menjadi bagian dari kebiasaan untuk menjaga kesehatan jantung.
Kenali Gejalanya
Selain memahami faktor pemicunya, masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda serangan jantung. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada seperti ditekan, diremas, atau tertindih. Nyeri yang dapat menjalar ke lengan, leher, rahang, bahu, atau punggung. Sesak atau kesulitan bernapas. Keringat dingin dan mual.
Lemas atau tubuh terasa sangat tidak bertenaga secara mendadak.
Nyeri dada juga jangan langsung dianggap sebagai masuk angin atau sekadar kelelahan, terutama jika muncul secara tiba-tiba dan disertai gejala lainnya.
Jika mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung, pemeriksaan dan penanganan medis segera diperlukan. Semakin cepat kondisi dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Kelola Stres
Menjaga kesehatan jantung dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Mengenali pemicu stres, mengelola emosi, menjaga pola makan, berolahraga secara teratur, tidur cukup, dan membangun dukungan sosial merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pemeriksaan kesehatan jantung secara berkala juga dapat membantu mendeteksi faktor risiko maupun gangguan kardiovaskular sejak dini.
Jenis pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang. Pemeriksaan tersebut antara lain dapat mencakup elektrokardiogram (EKG), treadmill test, maupun evaluasi faktor risiko kardiovaskular.
Jangan Sampai Terlambat
Marah, sedih, cemas, dan stres merupakan bagian dari kehidupan yang dapat dialami siapa saja. Namun, respons tubuh terhadap tekanan emosional tetap perlu diperhatikan, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Jika muncul nyeri dada yang hebat atau rasa tertekan dan diremas secara tiba-tiba, terlebih jika disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau nyeri yang menjalar, jangan mengabaikannya.
Mengenali gejala dan mendapatkan pertolongan medis sedini mungkin merupakan langkah penting untuk menangani kondisi jantung secara tepat.







