Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Hingga 21 September 2026, tercatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi terdampak karhutla, dengan 40.363 kasus terjadi pada balita.
Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute Made Natasya Restu Dewi Pratiwi mengatakan tingginya kasus ISPA tersebut menunjukkan kelompok rentan perlu mendapat perhatian khusus dalam penanganan bencana, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
“Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga 21 September 2026 tercatat 174.694 kasus ISPA di provinsi terdampak karhutla, dengan 40.363 kasus terjadi pada balita. Artinya, sekitar 23,1 persen dari seluruh kasus ISPA tersebut merupakan kasus pada balita,”
kata Natasya, dikutip pada Senin, 28 September 2026.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan pernapasan. Risiko ISPA perlu diantisipasi pada kelompok seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru atau asma.
“Data ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak dirasakan secara sama oleh seluruh masyarakat. Kelompok rentan memiliki kebutuhan kesehatan dan perlindungan yang berbeda sehingga harus diperhitungkan sejak tahap kesiapsiagaan, bukan hanya ketika dampak bencana sudah terjadi,”
ujar dia.
Siap Siaga
Natasya menilai penanganan karhutla dan dampak kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan respons setelah masyarakat mulai mengalami gangguan kesehatan. Pemerintah perlu memperkuat kesiapsiagaan sejak sebelum bencana, termasuk dengan mendata kelompok rentan secara berkala.
Pendataan tersebut penting agar pemerintah dapat menyiapkan layanan kesehatan, distribusi bantuan, evakuasi, hingga perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, risiko kesehatan akibat bencana dapat ditekan, terutama bagi kelompok yang paling rentan terhadap dampak asap karhutla.
“Indonesia perlu memastikan keterampilan kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari kesadaran dan keseharian masyarakat. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk melindungi diri, keluarga, serta kelompok yang memiliki kebutuhan khusus ketika bencana terjadi,”
ucap Natasya.






