Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute Made Natasya Restu Dewi Pratiwi mengatakan bencana tidak hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan, tetapi juga dapat memperbesar kerentanan perempuan dan anak perempuan terhadap kekerasan serta gangguan akses layanan kesehatan reproduksi.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika bencana mengganggu sistem perlindungan, layanan kesehatan, keamanan tempat pengungsian, hingga mekanisme pendataan dan rujukan bagi kelompok rentan.

“Perempuan dan anak perempuan juga menghadapi peningkatan kerentanan terhadap risiko kekerasan dan gangguan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi ketika bencana mendisrupsi sistem perlindungan, layanan kesehatan, keamanan tempat pengungsian, serta mekanisme pendataan dan rujukan,”

ujar Natasya, Senin, 28 September 2026.

Dia menyebut kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara umum. Pemerintah perlu memperhitungkan kebutuhan spesifik kelompok rentan sejak tahap kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.

Kelompok lain yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain perempuan hamil, ibu menyusui, ibu dengan balita, anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, serta masyarakat yang memiliki beban pengasuhan.

Tepat Data

Natasya menilai pendataan kebutuhan kelompok rentan secara berkala penting dilakukan agar bantuan dan layanan yang diberikan selama bencana benar tepat sasaran. Data tersebut dapat menjadi dasar dalam menyiapkan layanan kesehatan, logistik, tempat pengungsian, evakuasi, hingga mekanisme perlindungan.

“Pendataan kebutuhan kelompok rentan perlu dilakukan sejak tahap kesiapsiagaan agar distribusi bantuan dapat berjalan tepat sasaran, berkualitas, dan tepat waktu, sekaligus mencegah kerugian maupun kehilangan nyawa korban,”

kata dia.

Ia juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang lebih inklusif. Pemerintah dapat melibatkan kader kesehatan, kelompok perempuan, organisasi penyandang disabilitas, kelompok pemuda, masyarakat adat, serta organisasi masyarakat sipil dalam pemetaan kebutuhan dan simulasi kebencanaan.

“Kesiapsiagaan tidak seharusnya baru dibangun ketika krisis terjadi. Masyarakat perlu memiliki kapasitas untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus,”

tutur Natasya.