Nyeri bahu, tennis elbow, lutut, tumit, punggung hingga leher kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, apabila berlangsung terus-menerus, nyeri dapat membatasi pergerakan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Keluhan pada area bahu dan lengan juga dapat dialami sebagian pasien setelah menjalani pemasangan Permanent Pacemaker (PPM) atau alat pacu jantung. Rasa tidak nyaman, kekakuan, hingga keterbatasan gerak pada sisi tertentu dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang leluasa.
Dalam kondisi tertentu, salah satu modalitas yang dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi adalah shockwave therapy. Terapi ini menggunakan gelombang akustik yang diberikan dari permukaan tubuh tanpa sayatan dan tanpa memasukkan alat ke dalam tubuh.
Menurut dr. Kevin Triangto, BMedSc (Hons), Sp.K.F.R(K), Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, rehabilitasi tidak hanya bertujuan mengurangi rasa nyeri.
Dalam rehabilitasi, tujuan kita bukan hanya mengurangi nyeri, tetapi membantu pasien kembali bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik sesuai dengan kondisi yang dialaminya,”
ujar dr. Kevin, Senin, 28 September 2026.
Dilakukan dari Permukaan Tubuh
Shockwave therapy merupakan terapi noninvasif. Prosedurnya dilakukan dengan menempatkan alat pada bagian tubuh yang menjadi target terapi, kemudian memberikan gelombang akustik ke jaringan tersebut.
Terapi ini telah digunakan sebagai salah satu modalitas dalam penanganan beberapa kondisi muskuloskeletal, terutama gangguan tertentu pada tendon. Dalam program rehabilitasi, shockwave dapat dikombinasikan dengan latihan fisik, edukasi, serta modifikasi aktivitas sesuai kebutuhan pasien.
Meski demikian, terapi ini tidak otomatis cocok untuk setiap keluhan nyeri.
Tidak semua keluhan nyeri membutuhkan terapi yang sama. Pemeriksaan terlebih dahulu diperlukan untuk mengetahui sumber masalah dan menentukan apakah shockwave sesuai untuk pasien,”
jelas dr. Kevin.
Karena itu, diagnosis dan evaluasi kondisi pasien menjadi bagian penting sebelum terapi diberikan.
Untuk Keluhan Otot dan Sendi
Shockwave therapy dapat dipertimbangkan sebagai salah satu modalitas rehabilitasi pada sejumlah kondisi muskuloskeletal, antara lain keluhan pada bahu, tennis elbow, nyeri lutut dan tumit, cedera olahraga, serta keluhan tertentu pada punggung dan leher.
Salah satu contohnya adalah tennis elbow. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri di sekitar siku dan mengganggu aktivitas yang membutuhkan penggunaan tangan secara berulang.
Pada kondisi tertentu, shockwave dapat menjadi bagian dari program penanganan. Namun, penggunaannya tetap harus didasarkan pada diagnosis serta hasil pemeriksaan dokter.
Artinya, terapi tidak diberikan hanya berdasarkan lokasi nyeri. Dokter perlu mencari sumber masalah dan menilai kondisi jaringan serta kebutuhan pasien sebelum menentukan modalitas rehabilitasi yang sesuai.
Setelah Pasang Pacemaker
Pemasangan pacemaker merupakan salah satu bagian dari penanganan pasien dengan gangguan irama jantung. Namun, proses pemulihan tidak selalu berhenti setelah prosedur pemasangan alat selesai.
Pada sebagian pasien, terutama di sisi tempat alat dipasang, dapat muncul rasa tidak nyaman, kekakuan, nyeri, atau keterbatasan gerak pada bahu dan lengan.
Keluhan tersebut dapat membuat sejumlah aktivitas sederhana terasa kurang nyaman, seperti mengangkat tangan, mengenakan pakaian, mengambil barang, maupun melakukan pekerjaan sehari-hari.
Menurut dr. Kevin, aspek tersebut juga perlu diperhatikan dalam program rehabilitasi pasien setelah pemasangan PPM.
Setelah pemasangan pacemaker, yang perlu diperhatikan bukan hanya kondisi alat dan jantungnya, tetapi juga bagaimana pasien dapat kembali menggunakan bahu dan lengannya secara nyaman dalam aktivitas sehari-hari,”
ujarnya.
Pada pasien tertentu, rehabilitasi dapat meliputi latihan gerak, terapi fisik, edukasi aktivitas, hingga penggunaan modalitas tertentu.
Namun, penggunaan shockwave pada pasien yang memiliki pacemaker memerlukan pertimbangan dan evaluasi medis terlebih dahulu.
Bukan untuk Mengobati Pacemaker
Hal penting yang perlu dipahami adalah shockwave therapy bukan terapi untuk pacemaker dan tidak ditujukan pada alat pacu jantung tersebut.
Pada pasien yang memiliki pacemaker, dokter perlu mengetahui jenis serta lokasi alat yang terpasang sebelum menentukan modalitas terapi. Area generator pacemaker tidak menjadi target pemberian shockwave.
Pemilihan lokasi terapi dilakukan berdasarkan evaluasi kondisi pasien dan pertimbangan keamanan.
Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, sebelum menentukan terapi, kami perlu mengetahui sumber keluhan, kondisi jaringan, riwayat tindakan yang pernah dilakukan, termasuk keberadaan alat pacu jantung atau alat implan lainnya,”
kata dr. Kevin.
Dengan demikian, tujuan rehabilitasi pada pasien pasca pemasangan PPM adalah menangani keluhan muskuloskeletal yang menyertai serta membantu mengembalikan fungsi bahu dan lengan, bukan memberikan terapi terhadap alat pacu jantung.
Jangan Anggap Keluhan Biasa
Nyeri setelah beraktivitas, berolahraga, atau menjalani tindakan medis tidak selalu harus ditahan. Apalagi jika keluhan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas.
Nyeri yang menyebabkan seseorang kesulitan bergerak, bekerja, berolahraga, tidur, atau melakukan aktivitas sehari-hari sebaiknya mendapatkan evaluasi untuk mengetahui penyebabnya.
Hal tersebut juga berlaku bagi pasien setelah pemasangan pacemaker yang mengalami nyeri, kekakuan, atau keterbatasan gerak pada bahu dan lengan.
Pemeriksaan oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dapat membantu menentukan penyebab keluhan sekaligus menyusun program pemulihan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Target akhirnya bukan sekadar pasien mengatakan nyerinya berkurang, tetapi pasien dapat kembali melakukan aktivitas dengan fungsi gerak yang lebih baik dan nyaman,”
ujar dr. Kevin.
Tujuan Rehabilitasi
Perkembangan layanan rehabilitasi memberikan berbagai pilihan modalitas untuk membantu pasien dengan keluhan otot, tendon, dan sendi.
Shockwave therapy merupakan salah satu modalitas yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu. Namun, keputusan penggunaannya tetap harus didasarkan pada diagnosis, kondisi jaringan, riwayat tindakan medis, serta kebutuhan masing-masing pasien.
Pada keluhan seperti nyeri bahu, tennis elbow, lutut, tumit, cedera olahraga, maupun keluhan tertentu pada punggung dan leher, penanganan yang tepat diharapkan dapat membantu pasien kembali bergerak dan menjalankan aktivitas.
Begitu pula pada pasien pasca pemasangan PPM yang mengalami kekakuan atau keterbatasan gerak bahu dan lengan. Program rehabilitasi dapat menjadi bagian dari proses untuk membantu pasien kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, tujuan rehabilitasi bukan hanya membuat nyeri berkurang, tetapi juga mengembalikan fungsi dan kualitas gerak pasien.
Bagi masyarakat yang mengalami nyeri atau keterbatasan gerak, termasuk pasien setelah pemasangan pacemaker, konsultasikan keluhan kepada dokter terlebih dahulu agar penyebabnya dapat dievaluasi dan pilihan terapi dapat ditentukan sesuai kondisi masing-masing.







