Fenomena panic buying obat antivirus oseltamivir di tengah peningkatan kasus influenza perlu diwaspadai. Sebab, penggunaan obat tanpa indikasi dan pengawasan dokter tidak hanya berisiko menimbulkan efek samping, tetapi dapat meningkatkan risiko resistensi virus terhadap antivirus.
Kementerian Kesehatan menegaskan oseltamivir bukan obat yang dapat dikonsumsi secara massal sebagai langkah pencegahan influenza. Obat ini diberikan berdasarkan penilaian medis, terutama kepada pasien dengan influenza berat maupun kelompok yang memiliki risiko mengalami komplikasi.
Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana menjelaskan penggunaan antivirus secara berlebihan tanpa indikasi medis dapat menimbulkan persoalan lain, yakni peningkatan risiko virus menjadi resisten terhadap obat. Kondisi tersebut dapat membuat terapi antivirus menjadi kurang efektif ketika benar-benar dibutuhkan.
Selain risiko resistensi, manfaat oseltamivir pada pasien influenza tanpa komplikasi juga relatif terbatas. Berdasarkan meta-analisis terhadap sekitar 2.500 pasien anak rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi, pemberian oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.
Manfaat tersebut juga tidak berlaku secara umum. Studi menunjukkan manfaat yang signifikan hanya ditemukan pada kondisi tertentu, yakni ketika obat diberikan kurang dari 24 jam sejak gejala awal pada anak di bawah enam tahun tanpa riwayat asma.
“Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi,”
kata Dewi, dikutip pada Selasa, 29 September 2026.
Jangan Panik
Dari sisi efek samping, penelitian yang dipaparkan Dewi juga mencatat risiko muntah pada anak yang mengonsumsi oseltamivir mencapai 1,6 kali lebih tinggi. Maka, penggunaan obat perlu mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat dan risiko.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia meminta masyarakat tidak membeli oseltamivir dalam jumlah besar hanya karena khawatir tertular atau mengalami influenza. Menurut dia, kebutuhan obat harus ditentukan berdasar kondisi pasien dan data surveilans, bukan kepanikan.
“(Hal) yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat,”
ujar Lucia.
Kemenkes menyebut mayoritas kasus influenza bersifat self-limiting disease atau dapat membaik dengan sendirinya melalui istirahat yang cukup dan pemenuhan kebutuhan cairan. Antivirus terutama diberikan pada pasien dengan kondisi berat yang membutuhkan bantuan oksigen serta kelompok rentan, seperti balita di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita komorbid, dan pasien dengan sistem imun lemah.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan surveilans Informasi Surveilans Sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) hingga pekan ke-38 2026, terdapat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan atau sekitar 17 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 24 persen.
Kemenkes juga menyatakan virus yang saat ini dominan di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09. Adapun influenza A(H3N2) subclade K yang ramai disebut sebagai “super flu” hanya ditemukan 22 kasus sepanjang 2026 dan tidak mencatat penambahan kasus sejak April.






