Mayoritas kasus influenza dapat sembuh tanpa antivirus, sehingga masyarakat diimbau tidak mengonsumsi oseltamivir secara mandiri tanpa pemeriksaan dan resep dokter.
Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas Pompini Agustina Sitompul menjelaskan influenza merupakan self-limiting disease atau penyakit yang dapat membaik sendiri. Penanganan pada kasus ringan lebih mengutamakan istirahat yang cukup dan pemenuhan kebutuhan cairan.
Oseltamivir diberikan pada kondisi tertentu, terutama pasien influenza dengan gejala berat maupun kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Kelompok tersebut antara lain balita di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita penyakit penyerta atau komorbid, serta pasien dengan sistem imun lemah (immunocompromised).
Penilaian Medis
Kemudian, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalucia menegaskan oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal maupun dikonsumsi sebagai bentuk pencegahan tanpa penilaian medis.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis,”
kata Lucia dalam keterangan yang dikutip pada Selasa, 29 September 2026.
Penggunaan Oseltamivir pada influenza tanpa komplikasi tidak selalu bermanfaat besar. Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana memaparkan hasil meta-analisis terhadap sekitar 2.500 pasien anak rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan pemberian oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo. Manfaat yang signifikan juga hanya terlihat pada kondisi tertentu, yakni ketika obat diberikan kurang dari 24 jam sejak gejala awal pada anak di bawah enam tahun tanpa riwayat asma.
“Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi,”
ujar Dewi.
Selain manfaat yang terbatas pada kasus tertentu, penggunaan oseltamivir juga berisiko efek samping. Penelitian yang dipaparkan Dewi menunjukkan risiko muntah pada anak yang mengonsumsi obat tersebut mencapai 1,6 kali lebih tinggi.
Penggunaan antivirus tanpa indikasi medis juga berpotensi menimbulkan persoalan lain, yakni meningkatkan risiko resistensi virus terhadap obat. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan melakukan pembelian panik (panic buying) maupun menyimpan oseltamivir untuk digunakan sendiri ketika mengalami gejala flu.
Musiman
Kemenkes menyatakan kenaikan kasus influenza yang terjadi sejak September merupakan pola musiman tahunan yang juga terjadi di sejumlah negara ASEAN. Berdasarkan surveilans Informasi Surveilans Sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) hingga pekan ke-38 2026, terdapat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan atau sekitar 17 persen.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode 2025 yang mencapai 24 persen. Virus yang saat ini mendominasi di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09.
Masyarakat pun diminta tidak hanya berfokus pada obat ketika mengalami gejala influenza. Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sakit atau berada di keramaian, menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza tahunan.






