Virus influenza A (H3N2) kerap disebut “super flu” karena memiliki kemampuan perubahan genetik yang relatif cepat dibandingkan beberapa kelompok influenza lain.
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman berkata salah satu karakteristik H3N2 adalah kecepatannya mengalami antigenic drift, yakni perubahan kecil yang berlangsung secara bertahap pada protein permukaan virus.
Perubahan tersebut dapat membuat virus lebih sulit dikenali oleh antibodi yang sebelumnya terbentuk akibat infeksi maupun vaksinasi.
“H3N2 dikenal mengalami antigenic drift, lebih cepat dibandingkan H1N1 dan influenza B. Karena itu, kemungkinan terjadinya immune escape atau kemampuan virus menghindari imunitas yang sudah terbentuk cenderung lebih sering terjadi pada H3N2,”
ujar Dicky, dikutip pada Rabu, 30 September 2026.
Abilitas
Kemampuan virus tersebut membuat komposisi influenza yang dominan dapat berganti dari satu musim ke musim berikutnya. Ketika sebagian besar masyarakat telah memiliki imunitas terhadap satu subtipe, subtipe lain yang memiliki ruang lebih besar untuk menyebar dapat mengambil alih dominasi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai subtype cycling, yakni pergantian dominasi antarsubtipe atau tipe influenza dari waktu ke waktu. Pergantian ini tidak hanya dipengaruhi mutasi virus, tetapi juga kondisi imunitas masyarakat, lingkungan, serta mobilitas manusia.
“H3N2 bukan menjadi dominan hanya karena mutasi. Ada interaksi antara perubahan genetik virus, imunitas populasi, kondisi lingkungan, mobilitas manusia, dan faktor kebetulan ketika suatu subtipe masuk dan mulai menyebar di suatu wilayah,”
terang Dicky.
Menurut dia perubahan genetik H3N2 perlu dibedakan antara antigenic drift (perubahan kecil yang terjadi secara bertahap) dan antigenic shift (perubahan besar dan mendadak yang jauh lebih jarang terjadi).
“Antigenic shift jauh lebih jarang, tetapi secara teoritis dapat memiliki dampak besar karena populasi bisa memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki imunitas terhadap virus yang mengalami perubahan tersebut,”
ujar dia.
Beda Genetik
Saat ini, subklade H3N2 yang beredar juga menjadi perhatian karena terdapat perbedaan genetik dengan strain yang digunakan dalam vaksin influenza musim 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat efektivitas vaksin sedikit lebih rendah dibandingkan ketika strain vaksin lebih sesuai dengan virus yang beredar.
Strain vaksin ialah varian spesifik atau jenis turunan dari mikroorganisme, seperti virus atau bakteri, yang digunakan sebagai komponen dalam pembuatan sebuah vaksin.
Meski demikian, istilah “super flu” tidak berarti H3N2 merupakan jenis influenza baru ataupun setiap infeksi H3N2 pasti menyebabkan penyakit yang lebih berat. Istilah tersebut lebih berkaitan dengan karakteristik perubahan virus dan kemampuannya beradaptasi terhadap imunitas populasi.
Perkembangan H3N2 tetap perlu dipantau melalui surveilans influenza dan genomik untuk mencermati perubahan virus, pola penularan, serta kesesuaian dengan vaksin yang digunakan.






