Sudah disarankan menjalani operasi bypass jantung atau CABG (Coronary Artery Bypass Grafting), tetapi berusia 70 tahun ke atas, memiliki gangguan fungsi ginjal, penyakit penyerta, atau mengalami infeksi menjelang operasi?

Pada pasien tertentu, terdapat pilihan penanganan melalui kateter yang tidak membutuhkan pembelahan dada, yakni PCI Complex (Percutaneous Coronary Intervention).

Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan CABG untuk membuat jalur baru sehingga aliran darah dapat melewati pembuluh yang mengalami sumbatan.

Namun, CABG merupakan operasi besar sehingga kondisi pasien perlu dinilai secara menyeluruh, terutama pada pasien lanjut usia atau mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Menurut Dr. dr. Isman Firdaus, Sp.JP(K), MPH, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Interventional Kardiologi dan Kritikal Kardiolog RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, pada pasien tertentu dengan risiko operasi tinggi atau yang tidak bersedia menjalani CABG, pendekatan melalui kateter dapat menjadi salah satu pilihan.

Kita tidak hanya melihat sumbatan di pembuluh darah, tetapi juga kondisi pasien secara keseluruhan, termasuk usia, fungsi ginjal, penyakit penyerta, kondisi infeksi, serta risiko tindakan,”

kata Dr. dr. Isman, Rabu, 30, September 2026.

Apa Itu PCI Complex?

PCI (Percutaneous Coronary Intervention) merupakan tindakan intervensi untuk membuka pembuluh darah jantung yang mengalami penyempitan atau penyumbatan dengan menggunakan kateter.

Istilah PCI Complex digunakan untuk kasus yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi, misalnya sumbatan total, sumbatan yang panjang, pembuluh darah yang berkelok, kalsifikasi berat, atau sumbatan pada percabangan pembuluh darah.

Berbeda dengan CABG yang merupakan operasi jantung terbuka, PCI dilakukan melalui pembuluh darah menggunakan kateter berukuran kecil. Akses dapat dilakukan melalui pembuluh darah, salah satunya di area pergelangan tangan, kemudian kateter diarahkan menuju pembuluh darah jantung yang mengalami penyumbatan.

Dengan bantuan teknologi pencitraan di Cath Lab (laboratorium kateterisasi jantung), dokter dapat menentukan teknik dan perangkat yang sesuai dengan kondisi sumbatan. Pada kasus tertentu, dokter juga dapat memasang stent untuk membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka.

Pilihan EditorAni Ratnasari

Serangan Jantung Bisa Dipicu karena Emosi yang Meledak, Ini Penjelasan Dokter

Bagaimana dengan Pasien Lansia?

Usia 70 tahun ke atas tidak otomatis berarti pasien tidak dapat menjalani PCI Complex. Yang menjadi perhatian adalah kondisi pasien secara keseluruhan.

Dokter perlu mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi jantung, anatomi pembuluh darah, penyakit penyerta, kondisi fisik pasien, hingga risiko tindakan. Karena itu, keputusan terapi tidak semata-mata ditentukan berdasarkan usia.

Jika Memiliki Gangguan Ginjal?

Gangguan fungsi ginjal juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan sebelum menjalani PCI.

Dalam tindakan PCI, dokter dapat menggunakan zat kontras untuk membantu melihat pembuluh darah secara lebih jelas. Karena itu, kondisi dan fungsi ginjal pasien perlu diperhatikan dalam perencanaan tindakan.

Namun, gangguan fungsi ginjal tidak secara otomatis berarti pasien tidak dapat menjalani PCI. Dokter akan melakukan penilaian terhadap kondisi pasien dan mempertimbangkan risiko serta manfaat tindakan.

Begitu pula jika pasien mengalami infeksi menjelang tindakan. Dokter perlu menilai kondisi infeksi, kondisi jantung, urgensi penanganan, serta risiko dari setiap pilihan terapi sebelum menentukan langkah berikutnya.

Setiap pasien berbeda. Karena itu, keputusan antara CABG dan PCI harus berdasarkan kondisi klinis dan anatomi pembuluh darah pasien, bukan hanya berdasarkan usia atau satu penyakit penyerta,” ujar Dr. dr. Isman.

Tanpa Pembelahan Dada

Salah satu perbedaan PCI dengan operasi jantung terbuka adalah tindakan PCI tidak memerlukan pembelahan dada.

Kondisi tersebut memungkinkan proses pemulihan pada pasien tertentu berlangsung lebih singkat dibandingkan operasi jantung terbuka. Pada pasien yang stabil dan tidak mengalami komplikasi, lama perawatan dapat relatif singkat.

Dalam kondisi tertentu, pasien dapat diperbolehkan pulang sekitar tiga hari setelah tindakan. Namun, lama perawatan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien, hasil tindakan, penyakit penyerta, serta kemungkinan komplikasi.

Bukan untuk Semua Pasien

Meski menawarkan pendekatan tanpa pembelahan dada, PCI Complex bukan berarti menggantikan CABG pada semua pasien.

Terdapat kondisi tertentu ketika CABG tetap menjadi pilihan terapi yang sesuai. Karena itu, pemilihan antara CABG dan PCI perlu dilakukan berdasarkan penilaian menyeluruh.

Dalam kasus tertentu, keputusan dapat melibatkan Heart Team, yaitu tim multidisiplin yang mempertimbangkan kondisi klinis pasien, anatomi pembuluh darah, tingkat kompleksitas penyakit, risiko tindakan, manfaat terapi, serta preferensi pasien.

Dengan pendekatan tersebut, pilihan terapi diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap pasien, bukan menggunakan satu metode yang sama untuk semua orang.

Jangan Takut Bypass

Perkembangan teknologi intervensi jantung memberikan semakin banyak pilihan dalam menangani penyakit jantung koroner, termasuk kasus dengan penyumbatan yang kompleks.

Bagi pasien yang pernah disarankan menjalani CABG tetapi memiliki faktor risiko tertentu atau kekhawatiran terhadap operasi, PCI Complex dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan pada kondisi tertentu.

Namun, tidak semua pasien dengan penyakit jantung koroner kompleks dapat menjalani PCI. Pemeriksaan dan evaluasi dokter tetap diperlukan untuk menentukan apakah tindakan tersebut sesuai dengan kondisi pasien.

Jika Anda atau anggota keluarga pernah disarankan menjalani CABG, memiliki penyakit jantung koroner kompleks, atau ingin mengetahui pilihan terapi yang tersedia, konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.