Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan influenza di Indonesia memiliki pola berbeda dibandingkan negara empat musim.

Jika negara dengan empat musim umumnya mengalami lonjakan kasus influenza yang tajam pada musim dingin, penularan influenza di Indonesia dapat berlangsung sepanjang tahun.

Ia menjelaskan Indonesia sebagai negara tropis tidak memiliki periode ketika kasus influenza benar-benar mencapai titik nol. Peningkatan kasus cenderung lebih landai dan dalam sejumlah pola dapat terjadi lebih dari satu kali dalam setahun.

“Negara empat musim memiliki pola influenza yang sangat musiman, dengan puncak yang tajam pada musim dingin. Sementara negara tropis seperti Indonesia, transmisi influenza cenderung berlangsung sepanjang tahun dengan fluktuasi yang lebih landai,”

ujar Dicky, dikutip pada Rabu, 30 September 2026. 

Beda Nasib

Pola influenza di Indonesia menunjukkan pola bimodal atau dua periode peningkatan. Kondisi tersebut berkaitan dengan musim hujan dan pancaroba, ketika perubahan kelembapan dan curah hujan dapat memengaruhi stabilitas virus serta perilaku masyarakat.

“Di wilayah tropis, pola influenza lebih banyak dipengaruhi oleh kelembapan dan curah hujan yang kemudian berkaitan dengan perubahan perilaku manusia,”

kata dia.

Saat hujan atau kondisi cuaca tertentu, masyarakat cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan interaksi antarmanusia dan dapat memengaruhi pola penularan influenza.

Hal ini berbeda dengan negara empat musim yang memiliki pengaruh suhu dingin dan kering terhadap stabilitas virus di udara. Pada musim dingin, masyarakat juga lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan sehingga kondisi tersebut mendukung penularan.

“Kalau di negara empat musim, udara dingin dan kering meningkatkan stabilitas virus di aerosol, ditambah orang lebih banyak berada di dalam ruangan. Mekanisme (di sana) berbeda dengan negara tropis seperti Indonesia,”

ucap Dicky.

Karena influenza tidak pernah benar-benar hilang sepanjang tahun di wilayah tropis, peningkatan kasus juga perlu dibaca berdasarkan data surveilans. Tidak setiap kenaikan kasus otomatis menunjukkan munculnya gelombang luar biasa.

“Karena di negara tropis tidak pernah benar-benar nol kasus influenza, (Indonesia) perlu membedakan peningkatan yang bermakna dan yang hanya merupakan fluktuasi dari kondisi dasar,”

imbuh dia.