Influenza A(H3N2) subklade K menjadi salah satu varian influenza yang mendapat perhatian dalam pemantauan global setelah menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan perubahan genetik pada H3N2 perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kemampuan virus menghindari imunitas yang telah terbentuk.
Data surveilans genomik global menunjukkan sejak akhir 2025 subklade H3N2 menjadi dominan secara global, termasuk di Indonesia, dan menggeser H1N1 yang sebelumnya sempat dominan,”
ujar Dicky dalam keterangannya yang diterima Owrite, Rabu, 30 September 2026.
Dicky menjelaskan dominasi suatu subtipe influenza tidak terjadi secara tiba-tiba. Pergantian dominasi antarsubtipe atau subtype cycling dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan genetik virus hingga kondisi imunitas masyarakat.
Menurutnya, H3N2 mengalami perubahan genetik atau antigenic drift yang relatif cepat. Perubahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan antibodi yang terbentuk dari infeksi maupun vaksinasi sebelumnya dalam mengenali virus yang beredar.
Pada H3N2, perubahan antigeniknya relatif lebih cepat sehingga kemungkinan terjadinya immune escape atau kemampuan virus menghindari imunitas yang sudah terbentuk cenderung lebih sering,”
katanya.
Selain perubahan genetik, Dicky mengatakan kondisi imunitas masyarakat juga berperan dalam menentukan subtipe influenza yang lebih mudah menyebar.
Ketika satu subtipe telah banyak menginfeksi masyarakat, kekebalan populasi yang terbentuk dapat menekan penyebarannya untuk sementara.
Sebaliknya, subtipe lain yang sebelumnya lebih sedikit beredar dapat memiliki ruang untuk menyebar ketika tingkat kekebalan masyarakat terhadapnya relatif lebih rendah.
Kesesuaian komponen vaksin dengan virus yang beredar juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam perlindungan terhadap influenza.
WHO secara berkala memperbarui komposisi vaksin berdasarkan hasil surveilans global karena virus influenza terus mengalami perubahan.
Kalau strain vaksin tidak cocok dengan strain virus yang sedang beredar, subtipe yang mengalami mismatch itu memiliki keunggulan relatif untuk menyebar lebih luas di populasi,”
tandasnya.
Untuk musim influenza belahan selatan 2026, WHO sebelumnya merekomendasikan komponen H3N2 A/Singapore/GP20238/2024-like untuk vaksin berbasis telur dan A/Sydney/1359/2024-like untuk vaksin berbasis kultur sel.
Namun, WHO pada 25 September 2026 telah merekomendasikan komposisi vaksin untuk musim belahan selatan 2027 dengan komponen H3N2 A/Darwin/1454/2025-like untuk vaksin berbasis telur dan A/Darwin/1415/2025-like untuk vaksin berbasis kultur sel.
WHO menyebut subklade K telah terdeteksi di seluruh kawasan dan mendominasi di banyak negara.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga telah menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Nomor PM.03.01/C/584/2026 tentang Penanggulangan Penyakit Influenza A(H3N2) Subclade K.
Kemenkes sebelumnya menyatakan subklade K telah terdeteksi di 13 provinsi, meski tren kasus influenza secara nasional pada awal 2026 dilaporkan menurun.







