Meningkatnya aktivitas influenza di Indonesia membuat obat antivirus Oseltamivir menjadi perhatian masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan mayoritas kasus influenza dapat sembuh sendiri, sementara Oseltamivir tidak diperuntukkan bagi konsumsi massal atau penggunaan tanpa penilaian medis. 

Dokter Spesialis Paru RSPI Sulianti Saroso, dr. Pompini Agustina Sitompul, menjelaskan Oseltamivir tidak diindikasikan untuk batuk pilek biasa (common cold). Obat tersebut diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi berat atau kelompok rentan yang berisiko mengalami komplikasi.

Pada kasus-kasus berat yang ditandai adanya gejala batuk sesak napas yang memerlukan bantuan oksigen, pada kasus berat itulah baru bisa diberikan Oseltamivir. Penelitian menunjukkan pemberian Oseltamivir pada kasus ringan efektivitasnya kecil,”

ujar dr Pompini dalam keterangannya, Senin, 5 Oktober 2026.

Ahli Farmakologi, dr Dewi Selvina Rosdiana juga mengingatkan penggunaan Oseltamivir tanpa indikasi medis yang tepat dapat meningkatkan risiko efek samping. 

Kemenkes mencatat penelitian menunjukkan risiko muntah pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir mencapai 1,6 kali lebih tinggi. 

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Mulya Rahma Karyanti, menekankan pentingnya membatasi aktivitas anak ketika mengalami gejala batuk dan pilek agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain. 

Profil resmi Kemenkes mencatat dr. Karyanti sebagai dokter spesialis anak di RSCM. 

Untuk anak-anak yang lagi batuk pilek, sebaiknya tidak ke sekolah dulu, sebaiknya dia istirahat. Karena kalau dia ke sekolah, dia akan menularkan ke anak-anak sehat sekitarnya,”

kata dr Karyanti.

Karyanti juga mengimbau orang tua memisahkan peralatan makan penderita flu dan mengajarkan etika batuk yang benar, yakni menutup mulut dan hidung menggunakan siku lengan bagian dalam. 

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi penularan influenza. Ia juga menyebut penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta vaksinasi influenza sebagai bagian dari pencegahan.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Kemenkes merekomendasikan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pemberian vaksinasi influenza tahunan yang dapat diakses mulai usia 6 bulan hingga dewasa,”

tandasnya.

Kemenkes menyatakan aktivitas influenza di Indonesia memang meningkat pada akhir September 2026. 

Namun, peningkatan tersebut masih berada dalam pola musiman yang umum dan belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. 

Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan panic buying Oseltamivir. Kemenkes menegaskan obat tersebut hanya diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama bagi pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit.